JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyusun Rancanangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2021. Dalam RAPBN 2021 ini, pemerintah akan berfokus pada pemulihan ekonomi pasca anjlok di 2020 akibat virus corona.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dalam RAPBN pemerintah akan fokus kembali pada pembangunan. Hal ini bertujuan untuk menjalankan kembali roda perekonomian yang sempat melambat di tahun ini.
Baca juga: Imbas Covid-19, Sri Mulyani Sesuaikan Kerangka Ekonomi 2021
"Fokus pembangunan Indonesia bisa mampu menghidupkan kembali mesin perkeonomian ," ujarnya dalam teleconfrence, Selasa (12/5/2020).
Menurut Sri Mulyani, pandemi virus corona cukup membaut ekonomi goyang. Bahkan nilai tukar rupiah pun sempat melemah akibat kepanikan yang terjadi di pasar keuangan.
"Dampak Covid sudah tampak pada pertumbuhan ekonomi global yang akan mengalami resesi," ucapnya.
Baca juga: Penanganan Dampak Covid-19 Akan Masuk di RAPBN 2021
Menurutnya, tingkat kecemasan tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan masa periode krisis keuangan yang pernah beberapa kali terjadi. Oleh karena itu, arss modal yang yang keluar pun sudah mencapai Rp145,28 trilun di kuartal I-2020.
“Ada kepanikan di pasar keuangan, kepanikan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, arus modal keluar dari negara berkembang sangat besar… arus perpindahan dari Indoneesia ke luar kali ini lebih tinggi dari 2008 dan taper tantrum,” jelas Sri Mulyani.
Oleh karena itu, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun menyampaikan pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,5% di RAPBN 2021 mendatang. Sementara unutk, inflasi ditargetkan tetap rendah di kisaran 2% hingga 4%, serta nilai tukar rupiah ditargetkan hingga Rp 15.300 per USD.
Berikut asumsi makroekonomi dalam RAPBN 2021:
- Pertumbuhan ekonomi 4,5% hingga 5,5%
- Inflasi 2,0% hingga 4,0%
- Imbal hasil Surat Bendahara Negara (SBN) sepuluh tahun 6,67% hingga 9,56%
- Kurs Rp14.900 hingga Rp15.300 per USD
- Lifting minyak 677.000 hingga 737.000 barel per hari
- Lifting gas 1,085 juta hingga 1,173 juta barel per hari.
(Fakhri Rezy)