Seberapa Penting Subsidi BBM di Tengah Pandemi Covid-19?

Taufik Fajar, Jurnalis · Selasa 19 Mei 2020 16:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 19 320 2216605 seberapa-penting-subsidi-bbm-di-tengah-pandemi-covid-19-trih0MAymO.jpg Subsidi BBM di Tengah Pandemi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia salah satu negara yang masih memberikan subsidi energi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM). Anggaran yang disiapkan setiap tahunnya pun capai ratusan triliun.

Namun masih menjadi pertanyaan klasik, apakah pemberian subsidi ini tepat sasaran? Sebab, beban keuangan negara untuk memikirkan subsidi BBM sangatlah besar .

Menurut data dari Kementerian Keuangan Indonesia, pada 2011 subsidi BBM mencapai Rp165,2 triliun, kemudian pada 2012 meningkat tajam menjadi Rp211,9 triliun. Pada tahun 2013 terjadi sedikit penurunan subsidi menjadi Rp 210 triliun, namun biaya ini meningkat kembali pada 2014 menjadi Rp240 triliun.

Baca Juga: Mendag: Distribusi dan Stok BBM di Jabar Aman

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finanance (Indef) Uchok Pulungan, Indonesia harus belajar dari pengalaman nyata dialami Venezuela. Di mana pada 2000-2013, Venezuela memberi subsidi BBM di sana menjadikan harga bensin begitu murah, dengan besaran mencapai 1 sen USD per liter atau sekitar Rp140 per liter. Harga bensin ini bahkan jauh lebih murah daripada air mineral karena ada bantuan subsidi pemerintah untuk BBM.

Namun tragisnya, kenikmatan subsidi itu dibayar sangat mahal ketika Venezuela dilanda krisis ekonomi sejak 2014. Kondisi Venezuela berubah 180 derajat.

Baca Juga: Sudah Turunkan 2 Kali, Menteri ESDM: Harga BBM RI Salah Satu Termurah di ASEAN

Tentu ini menjadi warning bagi Indonesia. Besarnya subsidi yang tidak tepat tepat sasaran dapat menimbulkan jebakan yang berbahaya seperti yang dialami Venezuela.

“Pengalaman pahit Venezuela telah memberikan pelajaran bahwa kebijakan populis yang memanjakan warga dengan aneka subsidi terbukti tidak produktif dan bisa menjerumuskan negara dalam krisis ekonomi,” ujarnya, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (19/5/2020).

Menurutnya, di tengah pandemi virus corona saat ini, lebih penting mendorong daya beli masyarakat supaya ekonomi lebih berputar dan konsumsi rumah tangga tidak anjlok. Caranya, menekan inflasi pangan lewat operasi pasar di daerah, juga memastikan THR terhadap para pekerja dibayarkan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Febby Tumiwa menyebut, saat ini untuk BBM subsidi diberikan pada BBM jenis diesel (solar) dan minyak tanah. Di APBN 2020, besarnya Rp18,7 triliun. Sedangkan subsidi LPG 3 kg senilai Rp49,4 triliun.

“Subsidi ini memang perlu dipangkas secara bertahap dan dialihkan kepada sektor lain yang produktif tetapi pengalihan tersebut harus memastikan bahwa masyarakat miskin tetap bisa mendapatkan energi dalam jumlah yang cukup dan berkualitas,” ujar Febby.

Febby menambahkan, pemerintah juga tidak perlu terburu-buru merevisi harga BBM karena harga minyak saat ini volatile dan tidak mencerminkan keekonomian yang wajar. Penyebabnya adalah permintaan turun drastis dalam waktu singkat tapi tidak diikuti dengan penurunan pasokan. Terjadi kondisi oversupply sehingga mengakibatkan lonjakan permintaan storage dan mengakibatkan inventory meningkat.

“Tidak banyak yang bisa dilakukan Pertamina karena tidak bisa menciptakan permintaan dalam jangka pendek. Yang bisa dilakukan adalah pengelolaan inventory, mengendalikan produksi minyak mentah dan produksi kilang,” ucap Febby.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini