JAKARTA - Wacana pembukaan pusat perbelanjaan seperti Mal dalam beberapa hari ini mendapatkan banyak respons dari masyarakat. Pro kontra tentang pembukaan Mal yang direncanakan pada 5 Juni masih terus terjadi hingga saat ini.
Dari sisi pengusaha, dorongan untuk membuka Mal ini terus berbunyi makin kencang. Bahkan para pengusaha sudah meminta stimulus berupa kelonggaran membuka kembali Mal dengan protokol kesehatan yang ketat mengingat bisnisnya dan pendapatannya yang mulai menurun.
Baca juga: Persiapan Pembukaan Restoran di Mal, Ternyata Sudah Diantisipasi Sejak Awal PSBB
Sementara itu, dari sisi pemerintah pun hingga saat ini masih belum memutuskan apakah Mal akan kembali dibuka atau tidak pada Juni. Meskipun beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo sempat mengunjungi Mal Summarecon Bekasi untuk mengecek kesiapan dari protokol kesehatan jika new normal nantinya diterapkan.
Sementara itu, Menteri Perdagangan justru sudah memberikan kepastian jika pusat perbelanjaan seperti Mal akan beroperasi pada Juni mendatang. Saat ini Kementerian Perdagangan tengah menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP)nya.
Baca juga: Suhu Tubuh di Atas 37,5 Derajat Celcius Dilarang Masuk Mal
Namun Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Berly Martawardaya memiliki pandangan tersendiri terhadap pembukaan pusat perbelanjaan ini. Menurut Berly, dirinya menolak jika pembukaan Mal dilakukan dengan alasan new normal maupun yang lainnya.
Menurut Berly, seharusnya pemerintah lebih fokus untuk membantu para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan masyarakat miskin. Sebab para pelaku UMKM menjadi salah satu sektor yang paling terdampak virus Corona.