JAKARTA - Penerapan PSBB transisi sebelum new normal di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 sudah berjalan.
Aktivitas perkantoran, pasar hingga transportasi sudah mulai kembali meski baru 50%. Kemudian disusul pembukaan mal dan tempat wisata.
Pembukaan kegiatan ekonomi ini diharapkan menjadi roda penggerak perekonomian agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak minus alias resesi.
Akan tetapi, Indonesia harus waspada mengenai ancaman gelombang kedua Covid-19. Sebab di negara lain sudah mengalami gelombang kedua Covid-19 karena setelah ekonominya dibuka ditemukan kasus baru Covid-19 dan terjadi lonjakan.
Berikut fakta-faktanya seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Minggu (14/6/2020).
1. Jokowi soal Pembukaan Ekonomi
New normal di Indonesia sudah di depan mata. Persiapan-persiapan dilakukan agar Indonesia bisa produktif tapi tetap aman dan sehat dari virus Corona atau Covid-19.
Oleh sebab itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melonggarkan sektor ekonomi. Namun, hal ini masih melalui tahapan yang ketat.
"Sektor dengan penularan covid yang rendah tetapi memiliki dampak ekonomi yang tinggi itu didahulukan," ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, sektornya pun tetap dipilah-pilah. Di mana yang diutamakan adalah sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, industri manufaktur, konstruksi, logistik, serta pertambangan dan perminyakan.
"Ini sudah disampaikan oleh Ketua Gugus Tugas, agar ini menjadi catatan bagi kita semua," ujarnya.
2. Masyarakat Produktif
Pelaksanaan normal baru (new normal) yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia di sejumlah daerah di Tanah Air pekan ini diharapkan menjadikan masyarakat produktif dan aman Covid-19.
“Masyarakat produktif dan aman covid, pertama, ini berarti masyarakat produktif yang memutus mata rantai covid dan kedua, produktif dalam memutus mata rantai dari meningkatnya angka PHK (pemutusan hubungan kerja), agar tidak semakin tinggi, sehingga kegiatan sosial ekonomi masyarakat bisa terdorong,” ungkap Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Lewat pemberlakukan new normal maka diharapkan kondisi perekonomian membaik seperti yang sudah dilakukan beberapa negara lain. “Kita harus banyak belajar dari negara yang sudah mendahului kita, seperti Korea, China, dan Italia,” katanya.
3. Dampak Covid-19 ke Perekonomian
Kondisi perekonomian nasional selama masa Pandemi Covid -19 hampir semuanya turun drastis. Bahkan Airlangga menyatakan hampir seluruh sektor perekonomian terpotong antara 20% hingga 50%. Namun demikian ada pula sektor yang masih positif.
"Sektor yang paling baik, adalah pangan, kesehatan dan kelapa sawit atau produksi minyak nabati. Sementara yang lain semuanya berada di bawah,” ucap Airlangga.
4. Start Engine Ekonomi RI
menurut Menko Perekonomian, maka harus dilakukan restart engine ekonomi. Hal tersebut diperlukan agar bisa menahan yang terkena PHK dan menahan kondisi masyarakat yang berada di near poor menjadi poor.
Kondisi perekonomian Indonesia sebenarnya sudah mendapatkan kepercayaan di mata pasar. Menurut Airlangga, indikator perekonomian Indonesia saat ini positif. Misalnya penerbitan obligasi oleh Hutama Karya yang ratingnya rendah karena dijamin oleh pemerintah. Hal itu menunjukkan beberapa hal penting.
"Pertama, ini berarti kepercayaan terhadap surat utang kita positif. Kedua pasar modal sudah mulai rebound dan ketiga currency kita relatif cukup kuat,” tambah Airlangga.
Dari segi makro ekonomi, Menko Perekonomian juga melihat kepercayaan pasar terhadap Indonesia dan terhadap kebijakan yang diambil pemerintah adalah positif.
“Kita harus menjaga perekonomian nasional dan mengutamakan produksi nasional dan menjaga daya beli masyarakat agar jangan dimanfaatkan oleh importir yang akan menguntungkan negara lain,” pungkas Airlangga.
5. ADB: Perlu Langkah Hati-Hati
Deputy Director General Economic Research and Regional Cooperation, Asian Development Bank (ADB) Edimon Ginting mengatakan, peran pemerintah sangat penting dalam menjalankan new normal. Pemerintah perlu berhati-hati dalam menjalankan new normal agar tidak semakin memperparah keadaan.
"New normal ini akan dilakukan secara bertahap barangkali ini akan dimengerti teman teman. Kita harus memerlukan langkah hati hati mengontrol covid," ujarnya
Menurut Edimon, memang saat ini angka covid-19 di Indonesia belum menunjukan tanda-tanda penurunan. Hanya saja, langkah new normal ini perlu diambil agar perekonomian Indonesia tidak semakin anjlok.
6. Dunia Usaha Kembali Bernapas
Menurut Direktur Riset Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, dibukanya aktivitas sosial ekonomi itu, membuat badan usaha bisa kembali bernapas untuk melanjutkan usahnaya yang sempat terhenti.
"Jadi dengan diberlakukannya pelonggaran aktivitas bagi dunia usaha ini membuat mereka bernafas kembali. Pasalnya apabila tak ada pelonggaran para pelaku usaha akan bangkrut ke depannya," ujar dia.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.