BUMN Kerja Sama dengan Swasta, Erick Thohir: Kita Welcome

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 25 Juni 2020 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 25 320 2236392 bumn-kerja-sama-dengan-swasta-erick-thohir-kita-welcome-9IDwxh6XLO.jpg Menteri BUMN Erick Thohir (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir membuka peluang seluas-luasnya kepada swasta untuk bekerjasama dengan perusahaan pelat merah. Mengingat banyak keluhan dari sektor swasta tentang adanya BUMN yang monopoli khususnya yang berkaitan dengan infrastruktur.

Erick Thohir membuka selebar-lebarnya pintu untuk swasta bisa masuk. Apalagi jika kerjasama ini tujuannya adalah untuk membangun proyek infrastruktur sebagai penunjang ekonomi nasional.

 Baca juga: Sering Rombak Direksi BUMN, Erick Thohir: Bukan karena Like or Dislike

"Untuk swasta, kita welcome kita bekerjasama dengan swasta siapa saja welcome termasuk MNC," ujar Erick dalam acara Manager Forum MNC Group, secara daring Kamis (25/6/2020).

Menurut Erick Thohir, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh swasta jika ingin bekerjasama dengan BUMN. Pertama adalah swasta jangan sampai mengakali BUMN artinya harus sama-sama menguntungkan.

 Baca juga: Jamkrindo Dapat Suntikan Modal Rp3 Triliun, Untuk Apa?

"Tapi ada syaratnya. Satu jangan ngakalin BUMN. Mesti win-win. Saya enggak mau menciptakan raja-raja kecil," jelasnya.

Kemudian syarat yang kedua adalah perusahaan swasta tersebut harus memiliki pengalaman lebih dibandingkan perusahaan BUMN. Sebab menurutnya, pengalaman ini juga akan akan bagus untuk BUMN ke depannya.

 Baca juga: PNM Minta Tambahan Rp1,5 Triliun ke Erick Thohir, Buat Apa Sih?

Ditambah lagi, swasta juga akan menerima manfaat dari kerjasama ini. Mengingat, infrastruktur yang dimiliki oleh BUMN begitu besar dan juga luas karena tersebar di berbagai daerah.

"Sharing expertise. Kalau swastanya lebih expert lebih bagus. Karena dengan infrastrukturnya BUMN luar biasa ini nilai value luar biasa," jelasnya.

Lalu syarat yang ketiga adalah kerjasama keduanya harus bisa menekan impor. Apalagi, pemerintah sendiri saat ini sedang memperbaiki neraca dagang dengan mendorong ekspor dan menekan impor.

"Ketiga menjadikan bisa enggak me-reduce import supaya menjaga supply chain," kata Erick.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini