7 Kejengkelan Jokowi, dari Data OECD hingga Krisis

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 29 Juni 2020 09:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 29 320 2237969 7-kejengkelan-jokowi-dari-data-oecd-hingga-krisis-ZCwOOgK0jx.jpeg Presiden Jokowi (Foto: Youtube Setpres)

JAKARTA - Presiden Jokowi tampak jengkel sekali. Pada saat memimpin Rapat Siang Paripuran 18 Juni 2020, mimik mukanya menyiratkan kemarahan yang besar. Pun demikian dengan sorot mata yang tajam. Kata-katanya yang dilontarkan pun tegas dalam memberikan arahan hingga ancaman reshuffle.

(Foto: Capture YouTube Sekretariat Presiden)

Dalam rapat tersebut, Presiden Jokowi memberikan arahan mengenai suasana dalam 3 bulan ke belakang ini dan ke depan. "Mestinya yang ada, adalah suasana krisis," tegas Presiden dalam video akun YouTube Sekretariat Presiden, seperti dikutip Senin (29/6/2020).

Baca Juga: Presiden Jokowi Ancam Reshuffle Lantaran Kesal Anggaran Belanja Belum Maksimal

Di hadapan seluruh menteri dan kepala lembaga, Presiden juga meminta agar memiliki sikap penuh tanggung jawab dalam menjalani kepemimpinan. "Kita yang berada di sini ini bertanggung jawab kepada 267 juta penduduk Indonesia," ujarnya penuh dengan ketegasan.

Berikut ini kalimat-kalimat yang ditegaskan presiden.

1. Ini tolong digarisbawahi, dan perasaan itu tolong kita sama. Ada sense of crisis yang sama.

2. Hati-hati, OECD terakhir 1-2 hari lalu menyampaikan bahwa growth pertumbuhan ekonomi dunia terkontraksi 6, bisa sampai ke 7,6 persen. 6-7,6 persen minusnya.

Bank Dunia menyampaikan bisa minus 5 persen. Perasaan ini harus sama. Kita harus ngerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal.

(Foto: Capture YouTube Sekretariat Presiden)

3. Bahaya sekali kita. Saya lihat masih banyak kita yang menganggap ini normal.

Lah kalau saya lihat bapak ibu dan saudara-saudara masih melihat ini sebagai masih normal, berbahaya sekali.

4. Kerja masih biasa-biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extra ordinary.

Perasaan ini tolong sama. Kita harus sama perasaannya. Kalau ada yang berbeda satu saja, sudah berbahaya.

5. Jadi, tindakan-tindakan kita, keputusan-keputusan kita, kebijakan-kebijakan kita, suasananya harus suasana krisis. Jangan kebijakan yang biasa-biasa saja menganggap ini sebuah kenormalan.

Apa-apaan ini?

Mestinya, suasana itu ada semuanya. Jangan memakai hal-hal yang standar pada suasana krisis. Manajemen krisis sudah berbeda semuanya mestinya.

Kalau perlu kebijakan Perppu, ya perppu saya keluarkan. Kalau perlu perpres, ya perpres saya keluarkan. kalau sudah ada PMK, keluarkan.

6. Untuk menangani negara tanggung jawab kita kepada 267 juta rakyat kita.

Saya lihat, masiiih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja.

7. Saya jengkel di situ. Ini apa enggak punya persanaan. Suasana ini krisis.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini