Keren, 3 Pengusaha Milenial Ini Ubah Ancaman Covid-19 Jadi Keuntungan Berlipat-lipat

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 22 Juli 2020 20:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 22 320 2250496 keren-3-pengusaha-milenial-ini-ubah-ancaman-covid-19-jadi-keuntungan-berlipat-lipat-60hmabKuyi.jpeg Waspada Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pertama kali virus corona diidentifikasi pada awal tahun ini, perusahaan farmasi telah menjadi isu utama. Mengingat perusahaan farmasi raksasa berlomba-lomba untuk meluncurkan alat untuk mendeteksi corona dengan sangat cepat.

Namun di luar itu, ternyata banyak bisnis yang juga berperan untuk menjaga agar virus tetap terkendali dan mengidentifikasi wabah ini dari sumber asalnya. Hal ini juga yang membuat perusahaan atau individu untuk melakukan inovasi di bidang medis.

Baca Juga: Miliki Bos Lebih Muda, Hadapi dengan 6 Cara Ini

Mengutip halaman CNBC, Rabu (22/7/2020), ada tiga wirausahawan muda yang membantu industri kesehatan saat pandemi.

1.Layanan Konsultasi Online

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memberikan gambaran mengenai penggunaan teknologi untuk membantu masyarakat mengkonsultasikan kesehatannya. Salah satu contohnya adalah telemedicine atau layanan perawatan kesehatan jarak jauh.

Sebab saat ini lebih banyak orang berkonsultasi media dari rumah mereka. Untuk menjawab hal tersebut, pengusaha asal Swedia berusia 32 tahun, Johannes Schildt, dan rekan pendirinya telah menyediakan layanan konsultasi media lewat video yakni Kry.

Baca juga: 4 Tipe Kepribadian dalam Mengelola Keuangan

Platform ini menghubungkan pengguna di Eropa dengan dokter yang memenuhi syarat sebagai alternatif perawatan pribadi. Sejak adanya pandemi, jumlah permintaan sudah naik secara signifikan.

Selama Februari dan April, karena semakin banyak negara melakukan lockdown, permintaan aplikasi meningkat 160%, baik untuk permintaan Covid-19 dan perawatan umum. Sementara itu, lebih banyak profesional kesehatan bergabung dengan platform untuk menambah pendapatan mereka.

"(Sekarang) dengan latar belakang pandemi yang agak menyedihkan, sudah mulai menjadi sangat jelas bagi banyak orang bahwa ini adalah bagian penting dari infrastruktur layanan kesehatan mereka," kata Schildt.

Meningkatnya kebutuhan akan layanan perawatan kesehatan jarak jauh juga telah menyebabkan pelonggaran peraturan, yang secara tradisional mencegah adopsi telemedicine di beberapa pasar.

Schildt mengatakan dia berharap langkah itu dapat membantu membuat perawatan kesehatan digital lebih mudah diakses. Pada bulan April, perusahaan meluncurkan Livi Connect, layanan dasar gratis, kepada pengguna di AS.

2. Teknologi untuk Memprediksi Gejala Covid-19

Evolusi medtech baru-baru ini juga telah membuat gelombang perangkat yang bisa dipakai untuk mengetahui data kesehatannya sendiri. Misalnya lewat arloji, maupun cincin atau perangkat teknologi lainnya.

Nantinya alat tersebut dapat mengetahui detak jantung, suhu tubuh dan pola tidur. Nantinya hal ini bisa menjadi gambaran dari kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Tetapi selama pandemi, beberapa juga membantu mengidentifikasi gejala awal Covid-19.Salah satunya pelacak kesehatan pintar Finlandia Oura.

Baca juga: Cegah Kebakaran akibat Tabung Gas Bocor saat Bisnis Makanan, Begini Caranya!

Sebelumnya cincin titanium Oura telah berhasil memprediksi musim flu, namun CEO Harpreet Singh Rai mengatakan perusahaan pertama kali diperingatkan tentang kemampuan virus corona oleh pengguna. Ketika itu, pria tersebut baru saja melakukan perjalanan bermain ski pada awal maret.

"Dia menggambarkan dirinya sebagai tanpa gejala, yang menurutnya membuat virus ini sangat berbahaya. (Dia) memberi tahu orang-orang tentang pengalamannya dengan Oura dan melihat perubahan data yang sangat berarti yang membuatnya mengerti bahwa dia mungkin sakit," kata Singh Rai.

Mengingat penemuan itu, perusahaan sekarang menemukan cara untuk menggunakan data itu untuk membantu mendeteksi kasus di antara pekerja garis depan dan pengguna umum. Itu juga termasuk bermitra dengan atlet untuk mendapatkan kalender olahraga kembali secara normal.

Menurut Singh Rai, NBA membeli lebih dari 1.000 cincin pada bulan Juni, yang harganya masing-masing mencapai USD300. Sebab direncanakan NBA akan kembali dimulai pada akhir bulan.

"Kami bekerja sangat, sangat keras dengan NBA dan NBPA, yang pada dasarnya adalah persatuan mereka, untuk memastikan bahwa para pemain merasa aman tentang data mereka.(Jadi) tim kami datang dengan gagasan tentang skor risiko ini. Jika seseorang benar-benar terangkat pada skor risiko, mereka akan memanggil dokter tim medis dan mereka menyarankan agar tes kedua dilakukan untuk Covid,” kata Singh Rai.

3. Membantu Penelitian Medis

Teknologi medis menjadi lebih banyak digunakan pada era saat ini. Bahkan dengan medtech, bisa membuka peluang untuk meningkatkan penelitian medis.

Dalam menghadapi penyakit baru dan tak terduga seperti virus corona, penelitian itu sangat penting untuk membantu menghentikan penyebaran. Atas dasar itu, Lea von Bidder, pendiri dan CEO perusahaan kesehatan wanita Swiss bernama Ava, menawarkan informasi tentang bagaimana Covid-19 mengifeksi masyarakat khususnya wanita.

"Di masa lalu kami memiliki masalah di mana wanita tidak dimasukkan dalam studi klinis karena mereka mengutip, 'terlalu rumit' untuk apa pun yang dipelajari," kata von Bidder.

Produk unggulan perusahaan, Gelang Ava, diluncurkan pada 2016 untuk membantu wanita melacak siklus kesuburan mereka. Sejak itu telah membantu lebih dari 30.000 pasangan hamil di Eropa dan AS.

Sekarang, von Bidder dan timnya menggunakan data yang dianonimkan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pola fisiologis wanita.

"Saya pikir apa yang menarik dari kita yang datang dari kesuburan ini, latar belakang siklus menstruasi, adalah bahwa kita memahami 'normal' untuk wanita dengan sangat, sangat baik, yang penting sekarang ketika kita melihat Covid," katanya.

Sementara itu, gelang multi-indera juga digunakan dalam berbagai penelitian untuk memantau bagaimana dia dapat mendeteksi perubahan dalam bagian masyarakat yang lebih luas.

“Apa yang ingin kami lakukan adalah, kami ingin memahami bagaimana perangkat kami dapat mendukung awal (deteksi) Covid atau mendeteksi Covid dengan lebih baik," kata von Bidder. (kmj)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini