Sri Mulyani Ungkap Fakta Utang Pemerintah yang Membengkak, Apa Itu?

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 23 Juli 2020 17:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 23 320 2251050 sri-mulyani-ungkap-fakta-utang-pemerintah-yang-membengkak-apa-itu-YdlK6EsbfF.jpeg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi utang Indonesia saat ini didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi rupiah.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani merinci posisi utang pemerintah per akhir Juni 2020 meningkat menjadi Rp 5.264,07 triliun. Utang tersebut bertambah Rp 484,8 triliun dari posisi akhir 2019 Rp 4.779 triliun seiring kebutuhan dana untuk menangani masalah kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional akibat Covid-19.

Baca Juga: Pemerintah Tarik Utang Rp421,5 Triliun dalam 6 Bulan 

"Pembiayaan utang dengan instrumen utang secara hati-hati serta perudent efisien dan akuntabel," kata Sri Mulyani dalam webinar di Jakarta, Kamis (23/7/2020).

Kata dia, seiring kenaikan tersebut, rasio utang pemerintah terhadap PDB pun membengkak menjadi 32,67% dibandingkan akhir 2019 sebesar 29,8%. Rasio utang ini juga diprediksi akan terus meningkat hingga 2021.

"Komposisi utang pemerintah masih didominasi dalam bentuk SBN yakni 83,9% atau Rp 4.472,22 triliun. Sementara itu, porsi pinjaman 16,1% atau Rp 791,85 triliun," jelasnya.

Baca Juga: Sri Mulyani Ungkap Fakta, Seluruh Negara di Dunia Juga Berutang 

Sri Mulyani menjelaskan, kondisi pasar Surat Berharga Negara (SBN) RI sudah semakin membaik saat ini. Hal tersebut terlihat dari kinerja lelang dan imbal hasil alias yield SBN.

"Kami berharap konfiden serta kepercayaan kepada RI akan terus menguat," kata Sri Mulyani.

Dari kinerja lelang, Sri Mulyani menjelaskan, semakin membaiknya kondisi pasar SBN Indonesia terlihat dari jumlah penawaran yang masuk alias incoming bids. Hingga semester II 2020, total incoming bids SBN tercatat mencapai Rp1.423 triliun.

Apalagi, partisipasi Bank Indonesia yang ikut turun ke lelang SBN di pasar primer menurut dia memberi kepercayaan pasar yang luar biasa. "Kerja sama pemerintah dengan BI untuk terus jaga ekonomi yang tertekan dinilai sangat penting," imbuhnya.

Selain itu, perbaikan kondisi pasar SBN disebutkan Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga tercermin dari penurunan imbal hasil alias yield SBN. Adapun, yield SBN 10 tahun RI turun dari kisaran 8,2% pada 2019 menjadi 7% pada pertengahan Juli 2020.

Maka dari itu, ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus berusaha memulihkan ekonomi dari dampak negatif pandemi. "Sehingga kepercayaan investor akan menguat dan ini akan muncul dalam bentuk penurunan yield yang diharapkan dapat terus berlanjut," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini