Rhenald Kasali Beberkan Beda Krisis Ekonomi 1998, 2008 dan Akibat Covid-19

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 30 Juli 2020 10:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 20 2254349 rhenald-kasali-beberkan-beda-krisis-ekonomi-1998-2008-dan-akibat-covid-19-E5qKNiCndL.jpg Virus Corona (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda beberapa negara di dunia tak hanya mengakibatkan krisis kesehatan, melainkan juga berdampak pada krisis ekonomi. Hal itu lantaran aktivitas perekonomian dibatasi karena adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Rhenald Kasali menjelaskan perbedaan krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia pada 1998, 2008 dan akibat Covid-19. Dahulu saat 1998 silam itu terjadi karena banyak faktor yang memengaruhi sehingga perekonomian Tanah Air anjlok.

"Tahun 1998 itu juga beda dengan sekarang. Itu internal karena mata uang, kemudian krisis kepercayaan dalam negeri Presiden Soeharto jatuh, capital flight, harga saham jatuh, persediaan dolar AS tidak ada. Kemudian harga dolar naik tinggi, ekonomi merosot. Dolar jadi Rp17 ribu. 70% orang yang punya utang di bank setengah mati," kata Rhenal dalam wawancara di podcast YouTube Deddy Corbuzier yang dikutip Okezone, Kamis (30/7/2020).

Baca Juga: Masuk Sektor Prioritas, Pariwisata Dapat Jaminan Kredit 80%

Dia menambahkan, berlanjut ke krisis 2008 kala itu yang terkena imbasnya hanya saham bank yang anjlok. Kemudian, negara adidaya Amerika Serikat salah ambil kebijakan ekonomi, hingga berdampak luas.

"Itu yang kena hanya saham bank dan kasih bantuannya hanya kepada perusahaan besar dan saat itu Amerika salah strategi, tapi merembet ke mana-kemana," ujarnya.

Baca Juga: UMKM Kesulitan Bayar Utang dan Bunga Gegara Pandemi Covid-19

Dia menyebut bila krisis ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi ini jelas amat mengkhawatirkan. Sebab, segala kalangan terkena dampak hingga beberapa usahanya harus gulung tikar. Apalagi, para pelaku UMKM yang tidak memiliki cadangan uang.

"Yang terganggu saat itu (krisis 1998) adalah perusahaan-perusahaan besar, UMKM selamat, bahkan menjadi pengaman ekonomi indonesia. Kalau ini, justru yang menderita adalah UMKM," kata dia.

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini