Lebaran Idul Adha Tanggal Tua, Ada Ketupat Alhamdulillah Tak Ada pun Tak Apa-Apa

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 31 Juli 2020 06:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 320 2254697 lebaran-idul-adha-tanggal-tua-ada-ketupat-alhamdulillah-tak-ada-pun-tak-apa-apa-FgO8uVDxMN.jpg Tips Mengelola Keuangan untuk Milenial. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Ketupat identik dengan Hari Raya Lebaran. Ketupat menjadi santapan yang 'harus ada' saat merayakan Idul Adha.

Tapi lihat dulu, apakah ketupat menjadi satu kebutuhan yang harus dipenuhi saat Lebaran? Atau justru sebatas keinginan dan kebiasaan saja.

Di sinilah pentingnnya mengatur keuangan saat Lebaran. Agar dompet tidak jebol, pengeluaran yang sifatnya keinginan hendaknya dikurangi apalagi saat pandemi seperti ini.

Baca Juga: Kenapa Ada Generasi Sandwich? Berikut 5 Penyebabnya

Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan, secara garis besar sebenarnya membuat ketupat merupakan keinginan. Sebab tak makan ketupat atau mengganti ketupat dengan nasi yang biayanya lebih murah tidak berdampak apa-apa.

"Sebenarnya kalau makannya enggak pake ketupat pun makanya cuma nasi dikepel-kepel saja hanya beda bentuk saja. Cuma kita butuh biaya lebih untuk bikinnya. Kalau menurutku udah masuk ke keinginan ya karena seandainya makanya enggak pakai ketupat sah-sah saja dan tetap makan karena tujuannya nambah energi tadi," ujarnya saat dihubungi Okezone, Jumat (31/7/2020).

Baca Juga: Mau Liburan Murah Meriah? Begini Caranya

Hanya saja, anggapan jika tak membuat ketupat sebuah hal yang aneh saat Lebaran. Karena masyarakat enggan untuk berbeda.

"Cuma di mata masyarakat kita kadang tidak mau terlihat beda di mata masyarakat pada umumnya. Oh lazimnya orang makan ketupat kenapa kamu makanya nasi. Nah ketika diomongin begitu yang ada akhirnya kita merasa enggak enak hati ya sudah deh beli ketupat meskipun lebih mahal dibandingkan beli nasi. Yang penting terlihat sama dengan orang lain," kata Andi.

Menurutnya, Lebaran harus pintar memilah-milah untuk mengeluarkan uang mengingat kondisi yang sedang sulit akibat pandemi. Salah satunya memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan dan bukan keinginan.

Andi pun menjelaskan, kebutuhan merupakan sesuatu hal yang jika tak dipenuhi akan berpengaruh pada aktivitas dan kehidupan. Sedangkan keinginan adalah sebaliknya.

"Misalnya makan kebutuhan kita makan, kalau enggak makan minimal makan nasi rames atau uduk. Kalau kita enggak makan minimal kita akan lemes. Tidak ada energi. Oh makanya udah terpenuhi terus ada gorengan kayanya enak ya. Tapi misalnya kalau gorengan tersebut kita enggak beli impact-nya tidak masalah," kata Andi.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini