Negara Adi Daya AS Resesi, Ekonomi Indonesia Selamat?

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Sabtu 01 Agustus 2020 12:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 01 20 2255345 negara-adi-daya-as-resesi-ekonomi-indonesia-selamat-25LzlMmigf.jpg AS Alami Resesi dengan Pertumbuhan Ekonomi Minus 32%. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Amerika Serikat (AS) masuk ke jurang resesi dengan perekonomian terkontraksi hingga 32,9% pada kuartal II-2020. Sebelumnya, pada kuartal I tahun ini pertumbuhan ekonominya juga minus 5%.

Kondisi ini menempatkan AS ke ekonomi terburuk sejak 1947 resesi ekonomi ini terjadi setelah penyumbang utama ekonomi AS yaitu konsumsi rumah tangga merosot 34,6% secara tahunan.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core Indonesia) Piter Abdullah menilai, resesi ekonomi Amerika Serikat sudah dapat diproyeksikan. Hal itu karena perdagangan ekspor dan impor yang menjadi negara mitra AS mengalami penurunan secara drastis.

Baca Juga: Amerika Resesi, Capital Outflow Bayangi Pasar Modal

"Proses resesinya sendiri sudah berlangsung sejak awal tahun 2020 ini, itu sudah dapat dioperasikan sejak awal saat pandemi Covid-19," ujar Piter, Sabtu (1/8/2020).

Meski begitu, dia menegaskan bahwa resesi ekonomi Negara Adidaya tidak akan berdampak signifikan kepada Indonesia. Kontraksi ekonomi AS hanya akan berdampak signifikan terhadap negara-negara yang bergantung pada ekspor. Bahkan, kata dia negara-negara tersebut hanya menunggu waktu kapan resesi akan terjadi.

Baca Juga: Resesi! Ekonomi AS Anjlok 32% Terburuk Sepanjang Sejarah

Sementara Indonesia, secara instrument perekonomian tidak bergantung pada ekspor. Sehingga kekhawatiran dampak resesi di AS dan banyak negara tidak akan membuat buruk perekonomian Indonesia.

"Memang negara-negara tertentu yang sangat bergantung kepada ekspor akan terseret lebih dalam karena selain terjadi wabah di domestik, ekspornya juga turun karena penurunan ekonomi global. Tapi, Indonesia bukan negara seperti itu. Kita tidak bergantung Ekspor. Jadi resesi di AS dan di banyak negara lainnya tidak akan menambah buruk perekonomian Indonesia," ujarnya.

Peter menyebut, dampak resesi di berbagai negara termasuk AS sebenarnya sudah dirasakan di Indonesia. Di mana, ekspor Indonesia sudah menurun dan karena itu tidak akan berdampak lebih besar lagi.

"Perekonomian kita sudah terkontraksi, khususnya oleh karena wabah yang menyebabkan konsumsi dan investasi kita menurun," kata Peter.

Sementara it, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, imbasnya resesi ekonomi AS cukup dirasakan bagi perekonomian dalam negeri. Di mana tiap 1% pertumbuhan ekonomi AS terkoreksi akan berpengaruh terhadap 0.02-0.05% pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Efek resesi AS juga memberikan dampak pada kepercayaan investor dalam berinvestasi di aset yang beresiko tinggi seperti saham. Perubahan perilaku investor semakin mengincar safe haven seperti emas dan government bond. Artinya capital outflow dari pasar modal kemungkinan besar terjadi.

"Dalam sepekan terakhir nett sales atau penjualan bersih saham di Indonesia naik Rp1.86 triliun. Aksi jual terus berlanjut," kata Bhima.

Efek lain, lanjut dia, adalah turunnya kinerja ekspor ke AS sebagai mitra dagang utama. Resesi di AS membuat daya beli konsumen menurun, dan otomatis permintaan ekspor seperti tekstil, pakaian jadi olahan kayu dan alas kaki merosot khususnya pada semester dua 2020.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini