Dilema Ganjil-Genap, Pengguna Transportasi Umum Naik di Tengah Covid-19

Feby Novalius, Jurnalis · Senin 03 Agustus 2020 09:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 03 320 2255939 dilema-ganjil-genap-pengguna-transportasi-umum-naik-di-tengah-covid-19-MDwSrqQOmz.jpg Ganjil-Genap Mulai Diterapkan Hari Ini. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kebijakan ganjil-genap di wilayah DKI Jakarta kembali berlaku hari ini. Hanya saja kebijakan ini menjadi dilema saat banyak orang mulai beralih lagi ke transportasi umum di tengah pandemi virus corona.

Peran transportasi dalam penyebaran Covid-19 (Russ Bona Frazila, Juli 2020) adalah memindahkan orang (carrier) dengan virus dari satu tempat ke tempat lain. Stasiun atau terminal dan moda merupakan tempat berkumpul banyak orang secara bersama-sama dalam ruang yang sama dalam waktu tertentu.

Baca Juga: Ganjil-Genap Dimulai, Pengusaha Logistik Kirim Barang dengan Motor

Terjadinya interaksi fisik antara carrier dengan orang lain. Stasiun atau terminal dan moda yang dipakai oleh orang banyak boleh jadi tidak dibersihkan secara sempurna

Untuk itu, Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menilai, program kebijakan ganjil-genap dapat diselenggarakan dengan menyeimbangkan penyediaan fasilitas transportasi umum yang sehat mendekati kawasan perumahan dan pemukiman.

"Jaringan sepeda yang aman, nyaman dan selamat perlu dibangun. Diperlukan kebijakan komprehensif antar instansi untuk mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas di Jakarta," ujarnya, dalam keterangannya, Senin (3/8/2020).

Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta Kembali Terapkan Ganjil-Genap Hari Ini

Menurutnya, ada sejumlah tantangan sektor transportasi pada masa adaptasi menuju kebiasaan baru (pasca Penerapan PSBB Penuh). Pertama, penyelenggaraan transportasi berjalan dengan meminimalisasi resiko penularan dan penyebaran covid-19. Kedua, urban transport bersinggungan langsung dengan aktivitas keseharian masyarakat (komuter). Ketiga, pada masa adaptasi kebiasaan baru aktivitas semakin meningkat dibanding pada masa penerapan PSBB penuh.

"Keempat, aktivitas perekonomian harus tetap bergerak. Kelima, transportasi tidak boleh menjadi sarana penularan dan penyebaran covid-19," ujarnya.

Untuk diketahui, Jabodetabek sebagai wilayah teraglomerasi kondisi pergerakannya lebih kurang 88 juta pergerakan pernah hari. Wilayah Jabodetabek dengan penduduk lebih dari 30 juta saling memiliki ketergantungan aktivitas ekonomi antar wilayah di dalamnya. Intensitas pergerakan yang sangat tinggi ini juga dikarenakan Jabodetabek sampai saat masih memiliki porsi lebih dari 20% pergerakan ekonomi nasional. (feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini