Mahalnya Biaya Bikin Industri Logistik RI Tak Maju-Maju

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 03 Agustus 2020 15:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 03 320 2256203 mahalnya-biaya-bikin-industri-logistik-ri-tak-maju-maju-BHhqLPEONS.jpg Biaya Logistik di Indonesia Masih Dikeluhkan. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Biaya logistik di Indonesia tercatat masih menjadi yang paling mahal di Asia. Tak tanggung-tanggung, nilainya 24% terhadap produk domestik bruto (PDB). Demi mendorong kinerja industri logistik di Tanah Air, pemerintah diminta segera menurunkan biaya logistik.

“Pemerintah harus lebih mendorong lagi untuk melakukan upaya lagi agar biaya logistik semakin menurun,” kata Sekjen Indonesia Multimodal Transport Association (IMTA) Kyatmaja Lookman dalam acara Market Review di IDX Channel, Senin (3/8/2020).

Baca Juga: Kinerja Industri Logistik Terjun Bebas hingga 90% Imbas PSBB

Dia menilai, selama ini pemerintah melakukan berbagai upaya agar biaya logistik menurun. Namun, usaha itu dinilai belum menunjukkan tren yang positif, karena terbukti harganya masih tetap tinggi dan mengurangi margin keuntungan para pengusaha.

“Penurunan biaya logistik kita juga tidak signifikan. Walaupun banyak upaya telah banyak dilakukan pemerintah. Dengan adanya perbaikan atau upaya dilakukan, biayanya masih tetap tinggi,” ujarnya.

Dia menyebut, pembangunan infrastruktur yang sedang digencarkan belum mampu dirasakan manfaatnya oleh pihaknya. Karena pengiriman sebuah barang antar wilayah di Indonesia masih harus melalui proses yang panjang dan menelan biaya yang mahal.

Baca Juga: Wow! "Kapal Nabi Nuh" Singgah di Jawa Tengah

“Infrastruktur ada tapi belum ada koneksivitas. Jadi koneksivitas harus jadi fokus pemerintah dalam hal penurunan biaya. Contohbya pengiriman barang dari kereta ke pelabuhan, itu belum ada koneksivitasnya. Masih membutuhkan handling beberapa kali,” kata dia.

Menurut dia, bila pemerintah tak juga mendengarkan masukan dari para pengusaha logistik ini, maka pemberian restrukturisasi kredit terhadap setiap pelaku usaha tak akan berdampak positif ke pemulihan ekonomi nasional.

“Hambatan-hambatan ini akan selalalu menghambat kita untuk bergerak maju, walaupun relaksasi-relaksasi sudah diberikan oleh pemerintah,” katanya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini