Share

Semua Negara Bisa Masuk Jurang Resesi Ekonomi

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Selasa 04 Agustus 2020 17:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 04 20 2256879 semua-negara-bisa-masuk-jurang-resesi-ekonomi-HaCw6HxzjT.jpg Ekonomi RI (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia diambang resesi jika pertumbuhan dua kuartal secara berturut-turut tumbuh negatif atau minus. Pada kuartal I-2020, ekonomi Indonesia tumbuh positif 2,97%. Sementara, di kuartal II-2020 diprediksi ekonomi Indonesia minus 3% hingga 6% dampak pandemi virus corona.

Untuk itu, Presiden Jokowi memberikan tugas berat kepada Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) agar ekonomi Indonesia kuartal III-2020 tidak minus. Jika minus, Indonesia masuk jurang resesi.

Baca Juga: Bu Sri Mulyani, Indonesia Bisa Selamat dari Jurang Resesi? 

Mengutip data Okezone, Jakarta, Selasa (4/8/2020), negara lain sudah masuk jurang resesi, sebut saja Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Jerman, Uni Eropa hingga Amerika Serikat (AS).

Dalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.

Baca Juga: BI: Semua Negara Bisa Resesi 

Resesi ekonomi yang berlangsung lama disebut depresi ekonomi. Penurunan drastis tingkat ekonomi (biasanya akibat depresi parah, atau akibat hiperinflasi) disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse).

Bank Indonesia (BI) memastikan pandemi virus corona (Covid-19) bisa menekan ekonomi Indonesia termasuk dunia. Pasalnya, seluruh dunia bisa jatuh ke jurang resesi.

Deputi Gubernur BI Destry Damayani mengatakan krisis ekonomi tahun ini memang sangat berbeda dibandingkan krisis pada tahun 1998 dan 2009. Hal ini krisis ini disebabkan oleh virus yang mana krisis tahun 1998 disebabkan politik dan tidak berangsur lama.

"Jadi kalau kita lihat ya, krisis tahun 1998 ini memang berbeda sekali dengan tahun ini dan tahun ini memang cukup berat sekali tertekannya," ujar Destry dalam diskusi virtual di Jakarta, Senin 20 Juli 2020.

Sementara itu, Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2013-2018 Agus Martowardojo, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 akan ada di kisaran negatif atau minus 4% hingga 6%. Padahal, rata-rata pertumbuhan ekonomi di 5 tahun terakhir berada di angka 5%

"Akibat Covid ekonomi sudah turun 2,9%. Kita semua prediksi ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 tumbuh negatif, kita melihat negatif 4% sampai 6%," kata Agus dalam diskusi secara virtual, Senin 3 Agustus 2020.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal II diperkirakan akan tumbuh minus 3,26-3.88%. Adapun, perlambatan konsumsi rumah tangga dan lambatnya realisasi stimulus disertai rendahnya aktivitas manufaktur jadi penyebab utama anjloknya perekonomian pada kuartal II.

"Penanganan pandemi covid19 yang lambat dan kebingungan kebijakan kesehatan memperparah kepercayaan konsumen untuk berbelanja," ujar Bhima saat dihubungi di Jakarta, Selasa 4 Agustus 2020. (dni)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini