Penyederhanaan Tarif Cukai Jadi Angin Segar Buat Emiten Rokok

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Selasa 11 Agustus 2020 13:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 11 278 2260333 penyederhanaan-tarif-cukai-jadi-angin-segar-buat-emiten-rokok-V2eBMAGZ84.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Kementerian Keuangan melalui PMK nomor 77 Tahun 2020 mengumumkan kembalinya pembahasan soal penyederhanaan tarif cukai yang sempat dua kali mengalami penundaan sejak tahun 2017. Keputusan ini membawa angin segar bagi emiten-emiten besar di Indonesia, termasuk para calon investor yang tengah memantau nilai emiten atau tengah memutuskan untuk berbelanja emiten berkapitalisasi besar.

Disinyalir, penyederhanaan layer cukai akan membuat pabrikan golongan II untuk naik tingkat dan membayar cukai yang sama besarnya dengan para pendahulu.

Baca Juga: Imbas Covid-19, Fasilitas Cukai Rokok hingga Minuman Alkohol Bakal Diperpanjang

Chief Investment Officer perusahaan penasihat investasi independen Jagartha Advisors Erik Argasetya menyatakan, meskipun akan ada beberapa perusahaan dari golongan II yang terpaksa naik golongan, para perusahaan tersebut mungkin bakal sulit bersaing dengan para pemain besar yang sudah lebih dulu menguasai pangsa pasar di golongan I.

Dia menjelaskan, penyederhanaan tarif cukai lebih ke mendorong perusahaan di golongan II untuk naik kelasnya saja, apakah mereka mampu bertahan setelah naik ke I, harus diperhitungkan lagi.

Tentu akan ada penyesuaian harga jual dan itu akan sangat berpengaruh pada posisi perusahaan dalam menentukan strategi penjualan, distribusi sampai variasi produknya di market. Nah, rokok golongan II yang naik kelas tadi, kata dia, boleh jadi akan mirip dengan merek golongan 1. Harga yang tipis sangat mungkin membuat konsumen yang selama ini mengonsumsi rokok murah beralih ke merek yang lebih mahal.

Baca Juga: Sofyan Djalil: Langsung Saja Serahkan Sertifikat Tanah, Masyarakat Butuh Pinjaman 

“Consumer shifting ini akan membuat value emiten tersebut makin atraktif bagi investor dalam dan luar negeri. Bahkan, di kuartal pertama 2020, ada emiten yang masih mencatatkan laba bersih meskipun kemudian menunjukkan tren menurun di pertengahan tahun karena pandemi covid-19,” kata dia dalam keterangannya, Selasa (11/8/2020).

Disinggung soal dampak simplifikasi terhadap masa depan pelaku IHT, Erik menambahkan perlu ada pertimbangan dari sisi makroekonomi dan segi timing. Apakah hal ini merupakan momen yang tepat melihat kondisi perekonomian Indonesia yang melemah.

“Jangan sampai kebijakan ini terkesan dipaksakan karena jika perusahaan di golongan II naik ke golongan I dan tidak dapat bertahan, tidak tertutup kemungkinan pula bahwa mereka harus merumahkan para pekerjanya. Dan ini akan menambah gelombang PHK yang sudah banyak terjadi akibat pandemi covid-19, ini tentu risiko yang belum kejadian tapi ada kemungkinannya,” tegas Erik.

Head of Research Sucor Asset Management Michele Gabriela menyatakan, penyederhanaan layer yang terjadi sampai saat ini akan menguntungkan emiten rokok dengan market share paling besar.

“Maka harusnya memang pertumbuhan terjadi di emiten rokok golongan I dan lebih berpeluang ke pertumbuhan market share-nya. Saat ini, perusahaan rokok golongan I sudah menguasai 70% market. Nanti ketika perusahaan golongan II naik ke golongan I, survive atau tidaknya semua kembali ke permodalan masing-masing,” kata dia. (kmj)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini