Tak Hanya Modal Kerja, UMKM Juga Butuh Kepastian Pasar dan Strategi Produksi

Aditya Pratama, Jurnalis · Kamis 13 Agustus 2020 14:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 13 320 2261591 tak-hanya-modal-kerja-umkm-juga-butuh-kepastian-pasar-dan-strategi-produksi-bHnG7HoCiz.jpeg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Pemerintah akan segera merealisasi program penyaluran uang tunai bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Adapun, jumlah anggaran program yang merupakan percepatan program PEN ini mencapai Rp2,8 triliun.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus berpendapat, pemberian bantuan pendanaan atau modal kerja kepada pelaku UMKM dari pemerintah dirasa belum cukup. Para pelaku usaha harus juga diberikan kepastian pasar setelah melakukan produksi dan strategi produksi.

Baca Juga: Menko Airlangga Prediksi Ekonomi RI Minus 1% di Kuartal III, Jadi Resesi Nih?

"Ke depan soal kepastian pasar, setelah mereka produksi mereka tidak bingung lagi mencari pasar. Kemudian, dalam hal strategi produksi juga harus memilah-milah kira-kira produk apa yang saat ini permintaannya sedang tinggi di pasaran, tentu perlu ada penyesuaian," ujar Ahmad dalam acara Market Review IDX Channel, Kamis (13/8/2020).

Terkait perlunya dua hal di atas, Ahmad menilai hal itu harus dipikirkan, karena jika UMKM memproduksi barang-barang yang di saat pandemi Covid-19 tidak terlalu banyak permintaannya tentu pelaku UMKM akan mendapatkan dampak yang negatif.

Sehingga, perlu ada penyesuaian dan inovasi dari masing-masing UMKM terkait produk yang akan mereka buat, khususnya produk-produk yang saat ini permintaannya sangat tinggi di masa pandemi.

Baca Juga: Jokowi Gas dan Rem Selamatkan Ekonomi, Ini Penjelasan Erick Thohir 

"Tentu ini perlu adanya pendampingan, panduan, sampai ke akses pasar. Kalau modal kerja mungkin yang ke sekian," ucapnya.

Ahmad juga menyinggung terkait program Kartu Prakerja yang juga dibutuhkan oleh pelaku UMKM, dimana perlu dilakukan penyesuaian dari konten kurikulum dengan kebutuhan saat ini.

"Kalau kita lihat kan konten kurikulumnya belum semuanya in line dengan kebutuhan saat ini, sehingga dampaknya terhadap peningkatan kapasitas skill dari pelaku UMKM mungkin tidak terlihat atau minim hasilnya," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini