Cara Menyiasati Pengeluaran Ketika Kena PHK

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 24 Agustus 2020 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 23 320 2266168 cara-menyiasati-pengeluaran-ketika-kena-phk-Zo3YQIt5Fj.jpg Rupiah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Para korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) harus mulai mengatur pengeluarannya. Karena jika tak diatur dengan baik, uang pesangon yang begitu besar akan habis ludes tanpa tersisa.

Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan, dalam mengelola keuangan, maka harus mulai menghitung dan mengatur pengeluaran. Jika sudah terkena PHK, maka harus mulai mengerem pengeluaran yang tidak penting.

"Mau enggak mau harus bikin hitung-hitungan lagi pengeluarannya apa saja," ujarnya saat dihubungi Okezone, Senin (24/8/2020).

Baca Juga: Gaji Dipotong tapi Cicilan Menumpuk, Ada 2 Solusi Mengatasinya 

Menurut Andi, pengeluaran harus difokuskan kepada kebutuhan sehari-hari dan juga prioritas. Misalnya saja dalam hal cicilan rumah maupun kendaraan yang harus didahulukan.

Jika sudah berkeluarga dan memiliki anak, kebutuhan sang buah hati juga harus menjadi prioritas. Misalnya saja biaya pendidikan untuk anak dan juga turunannya.

"Prioritasnya itu kan misalnya untuk mereka punya cicilan KPR, cicilan kendaraan terus sekarang juga lagi musim penerimaan siswa baru lagi harus daftarkan anaknya sekolah prioritas-prioritas utama di situ untuk pengeluaran," jelasnya.

Baca Juga: Dear Korban PHK, Berikut Tips Mengelola Pesangon agar Tak Cepat Habis 

Sementara untuk kebutuhan sehari-hari untuk makan, juga harus menjadi prioritas. Meskipun secara jumlah, masih bisa ditekan lebih kecil lagi agar tidak terlalu banyak anggaran yang keluar.

"Nah di sisi lain, kayak makan prioritas juga cuma mungkin jadinya hal hal kaya gitu bisa di-adjust dikurangi kualitas maupun kuantitasnya. Sementara kalau kaya tadi cicilan-cicilan kita tetap prioritas pembayarannya karena enggak bisa dinego kan," jelas Andi.

Sementara itu, untuk kebutuhan sehari-hari seperti listrik dan air harus menjadi prioritas. Karena menurutnya, air dan listrik tidak bisa dinegosiasi sebab jika tak dibayar akan mengganggu aktifitas dan produktifitas.

"Kemudian kayak air, listrik berarti harus jadi prioritas, uang sekolah anak atau anak yang masih school from home tetap harus beli kuota. Sedangkan kayak makan kayak gitu hal-hal yang masih bisa di adjust," jelasnya.

Andi menambahkan, di samping itu, pengeluaran yang sifatnya untuk bersenang-senang seperti leisure harus mulai distop terlebih dahulu. Karena jika semakin sering mengeluarkan anggaran untuk leasure, maka bisa-bisa dompet akan jebol sebelum mendapatkan pekerjaan.

"Kemudian pengeluaran yang senang-senang me time, mau enggak mau harus distop dulu. Kalau saya memang membahasakannya udah distop yaa bukan dikurangi lagi," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini