Dear Korban PHK, Berikut Tips Mengelola Pesangon agar Tak Cepat Habis

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 23 Agustus 2020 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 23 320 2266102 dear-korban-phk-berikut-tips-mengelola-pesangon-agar-tak-cepat-habis-HV6aA9TYVv.jpg Rupiah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus corona atau Covid-19 membuat banyak perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada karyawannya. Mengingat, perusahaan mencoba untuk menyeimbangkan cash flownya imbas pandemi virus corona.

Bagi masyarakat yang sudah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pengelolaan uang menjadi hal yang sangat penting. Karena jika tidak dikelola dengan baik, maka uang pesangon akan habis sebelum mendapatkan pekerjaan kembali.

Oleh karena itu, untuk bisa survive dari situasi pasca PHK, adalah dengan menambah pemasukan dengan membuka usaha. Karena dengan membuka usaha kembali, kamu bisa memiliki penghasilan kembali meskipun jumlahnya tak sebesar saat bekerja.

Baca Juga: Dapat Subsidi Gaji Rp2,4 Juta, Haruskah Beli Barang Secara Kredit? 

Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan, uang yang dikeluarkan untuk modal usaha juga harus diperhatikan. Jangan sampai terlalu besar agar tak mengganggu pengeluaran dan jangan terlalu kecil sehingga tidak menghambat rencana untuk memulai bisnis.

Oleh karena itu, untuk memulai usaha hanya membagi pengeluaran untuk dua pos saja. Pertama adalah untuk pos pengeluaran kebutuhan sehari-hari, dan yang kedua adalah untuk modal usaha.

Adapun persentasenya, 70% untuk kebutuhan sehari-hari, dan 30% lagi untuk modal usaha. Sebagai gambaran, jika kamu mendapatkan uang pesangon sebesar Rp100 juta, maka Rp70 juta untuk kebutuhan sehari-hari dan Rp30 juta untuk modal usaha.

"Kalau saran saya maksimal 30% dulu yaa itu aja untuk modal usahanya karena 70% prioritasnya untuk kebutuhan sehari hari. Dari 30% diputar dulu," ujarnya saat dihubungi Okezone, Minggu (23/8/2020).

Menurut Andi, jika nantinya bisnis menghasilkan, tetap mengalokasikan anggaran sebesar 30%. Hal tersebut untuk menghindari kerugian yang besar jika suatu saat bisnis tidak lagi berjalan mulus

"Walaupun menghasilkan tetap 30%. Karena risikonya terlalu besar. Misalnya 30% muter-muter. Kadang kan kita jadi nafsu. Kalau modalnya lebih gede lagi tambah inject modal lagi hasilnya bisa lebih gede lagi. Kadang kita nafsu di situ," jelasnya.

Menurut Andi, selama yang bersangkutan belum mendapatkan penghasilan atau pekerjaan lain, maka alokasi modal usaha jangan terlalu besar. Sehingga ketika situasi dan bisnis sudah stabil dan sudah memiliki pekerjaan baru barulah bisa berfikir untuk memperluas bisnis.

"Saran saya sih selama masih kondisinya apalagi kalau kita masih menganggapnya usaha sampingan gitu kan sambil nyari kerja. Mending tetep stay di angka 30% tadi. Dan selebihnya baru digunakan untuk kebutuhan sehari-hari," kata Andi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini