Penjualan Turun 16 Persen, Semen Baturaja Kejar Target di Semester II

Fahmi Achmad, Jurnalis · Selasa 25 Agustus 2020 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 24 278 2266622 penjualan-turun-16-persen-semen-baturaja-kejar-target-di-semester-ii-ywNTBHXVUl.jpg Penjualan Turun 16 Persen, Semen Baturaja Kejar Target di Semester II Lewat Dua Produk Baru. (Foto: idx channel)

JAKARTA – Berada di tengah penurunan demand semen nasional sepanjang Semester I-2020, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) yang bergerak di industri semen mempersiapkan sejumlah langkah strategis untuk mencapai target di Semester II-2020. Salah satunya adalah meningkatkan penjualan varian produk terbaru seperti Mortar dan White Clay.

Melihat capaian SMBR di Semester I-2020 tidak begitu menggembirakan, Direktur Utama SMBR Jobi Triananda Hasjim mengungkapkan bahwa Perseroan akan fokus meningkatkan kinerja penjualan agar dapat mencapai target di Semester II-2020.

“Semester II-2020 ini Mortar dengan brand Baturaja Mortar diluncurkan dan akan dijual secara masal setelah beberapa bulan sebelumnya telah dilakukan market trial di wilayah Bandar Lampung,” ujar Jobi.

BACA JUGA : 50 Emiten Ikut Public Expose LIVE 2020, Ini Daftar Perusahaannya

Dalam pemaparan Public Expose LIVE 2020, Senin (24/8/2020), ditambahkan Jobi, penjualan sepanjang pandemi turun hingga 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya akibat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama pandemi dan banyak pembangunan infrastruktur yang ditahan.

Kembali dijelaskan Jobi, terkait dengan Baturaja Mortar hadir dengan 5 (lima) varian yaitu Mortar Acian, Pasangan Bata Ringan, Perekat Keramik, Pasangan Bata & Plesteran dan Acian Putih. SMBR telah menyiapkan dua unit produksi dengan kapasitas 1,5 dan 6 ton per hari (tpd) yang berlokasi di Pabrik Panjang, Lampung untuk mensuplai Mortar.

Selain itu guna mendukung penjualan produk White Clay yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kinerja SMBR, Perseroan juga telah mengembangkan fasilitas produksi White Clay agar dapat memenuhi target 50.000 ton sesuai dengan kontrak penjualan White Clay yang ditandatangani oleh SMBR dengan Pusri yang merupakan anak usaha Pupuk Indonesia.

Sepanjang Semester I-2020 realisasi penjualan White Clay mencapai 15.828 ton atau lebih tinggi 7% dari target yang telah ditetapkan pada periode tersebut. “Perseroan optimis target penjualan White Clay di 2020 akan tercapai seiring dengan kesiapan fasilitas produksi” tambah Jobi.

SMBR melalui anak usaha Baturaja Multi Usaha (BMU) juga telah merambah bisnis Bata Ringan sambil mempersiapkan produk turunan lainnya seperti Fibre Cement Board (FCB) dan Beton Porous yang saat ini masih dalam tahap pengujian.

BACA JUGA : Perusahaan Pengelola Aset Terbitkan Obligasi Rp642 ,1 Miliar

Selain mengembangkan berbagai varian produk, SMBR masih fokus meningkatkan penjualan semen terutama di pasar basis yaitu Sumbagsel. SMBR pun telah mempersiapkan sejumlah langkah antisipatif guna mengejar target di Semester II-2020 seperti melakukan ekspansi pasar di luar Sumbagsel.

Pengiriman perdana semen ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat sebanyak 2.250 ton hingga Juli 2020 menjadi entry point Perseroan untuk memasuki pasar Kalimantan. Bahkan SMBR pun telah melakukan sejumlah persiapan untuk segera memasuki pasar di Provinsi Riau.

Manajemen SMBR pun telah mengambil langkah efisiensi bahan baku dan energi, memperkuat arus kas dengan melakukan repackaging kredit investasi dan menunda sejumlah anggaran belanja modal agar kinerja Perseroan di 2020 dapat ditingkatkan.

Sepanjang Semester I-2020, SMBR telah mencatatkan volume penjualan semen sebesar 746.612 ton atau mencapai 84% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Pencapaian volume penjualan ini sudah cukup baik apabila melihat dampak dari pandemi Covid-19 yang menyebabkan menurunnya demand semen secara signifikan di hampir seluruh wilayah Perseroan.

Manajemen pun semakin optimis kinerja SMBR di Semester II-2020 dapat ditingkatkan seiring dengan diluncurkannya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) oleh Pemerintah yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan di sektor properti yang menjadi penyerap utama industri semen. (*)

(fad)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini