JAKARTA - Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Distributor, Importir, dan Produsen Pelumas Indonesia (PERDIPPI) Paul Toar mengatakan bahwa dugaan monopoli pelumas bisa berimbas terhadap konsumen dan juga perekonomian nasional.
"Ini juga bisa mematikan pengusaha-pengusaha kecil yang bergerak di sektor pelumas. Apalagi, di sektor tersebut, kebanyakan pemainnya adalah mereka dari usaha kecil," ungkap Paul dalam webinar Akurat di Jakarta, Kamis (3/9/2020).
Baca Juga: Langgar Aturan Harga Tiket Pesawat, 7 Maskapai Tak Kena Denda Rp25 Miliar
Karena itu, kesehatan sektor bisnis pelumas tentunya memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian Indonesia.
"Kalau kasus ini masih terus berlanjut dan menyeret perusahaan-perusahaan besar, otomatis banyak perusahaan pelumas yang relatif kecil ikut terhambat. Bisa saja pada akhirnya mereka justru akan mati," ucapnya.
Baca Juga: 7 Maskapai Langgar Aturan Harga Tiket Pesawat
Dia juga mengatakan, hal itu juga tidak akan menguntungkan pemegang merek jika mereka memonopoli.
"Sebab, pada akhirnya kemungkinan pertumbuhan ekonomi nasional itu akan terhambat, padahal tujuan utama para pemegang merek adalah menjual unit yang besar bukan pelumas, nah kalau masyarakat makin makmur maka pembeli kendaraan-kendaraan tersebut akan tumbuh," tambah Paul.