Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hadapi Krisis Ekonomi, Indonesia Diminta Belajar dari AS dan Thailand

Kunthi Fahmar Shandy , Jurnalis-Selasa, 08 September 2020 |12:27 WIB
Hadapi Krisis Ekonomi, Indonesia Diminta Belajar dari AS dan Thailand
Krisis Ekonomi (Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Indonesia diprediksi akan memasuki jurang resesi ekonomi. Hal ini ditentukan dari laporan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 nanti.

Ekonom Senior Indef Didin S Damanhuri mengatakan, Indonesia perlu belajar kasus penyelesaikan krisis dari negara AS dan Thailand. Di AS pada waktu tahun 1920-1930 an nilai saham anjlok, kredit macet, perusahaan bangkrut, hingga ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi tabungan.

 Baca juga: Sinyal Kuat Sri Mulyani Indonesia Masuk Jurang Resesi

Pada tahun 1930, gelombang pertama melanda perbankan. Masyarakat banyak yang kehilangan kepercayaan sehingga menarik dananya di perbankan secara besar-besaran serta memaksa bank untuk melikuidasi pinjaman guna melengkapi cadangan kas. Sehingga membuat perbankan AS tutup permanen pada tahun 1933.

Ketika terjadi krisis keuangan di pasar keuangan, pemerintah AS mengatasinya dengan fiskal power. Salah satunya menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

 Baca juga: Ekonomi Indonesia Minus 5,32% tapi Tak Separah India

"Jadi pada waktu itu ketika terjadi krisis besar mereka menyelesaikannya dengan fiskal power yakni menggunakan APBN mereka seperti menggenjot pabrik, membangun infrastruktur, membangun jalan tol, mengenjot sektor otomotif dan lainnya," ujar Didin saat diskusi online, Jakarta, Selasa (8/9/2020).

Dirinya mengatakan, hal ini dengan diawali menggenjot pekerjaan secara besar-besaran seperti padat karya sehingga membuat daya beli AS meningkat tajam. Selain itu, dapat menghidupkan semua industri terutama industri perbankan.

 Baca juga: Penyaluran Anggaran PEN Perlindungan Sosial Akan Dirombak, seperti Apa?

Bukan hanya krisis AS, lanjut dia, pada saat krisis Keuangan Asia yang dimulai Juli 1997 ketika pemerintah Thailand yang saat itu dibebani utang luar negeri yang besar memutuskan untuk mengambangkan mata uang baht setelah serangan yang dilakukan para spekulan mata uang terhadap cadangan devisa negaranya.

Pada saat ini, kalau di Indonesia krisis ekonomi 1997-1998 akrab disebut krisis moneter (krismon), di Thailand disebut krisis tom yum goong. Dalam periode tersebut, baht melemah hingga 41,13%.

Disaat bersamaan, muncul angin segar berupa penawaran paket bantuan dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) pada 31 Oktober 1997. Dengan adanya bantuan dari IMF, Thailand memanfaatkan dana tersebut untuk membangkitkan proyek padat karya sehingga daya belinya meningkat tajam, perbankan juga kembali bergairah.

"Jadi dalam kurun waktu 3 hingga 4 tahun ekonomi Thailand bisa kembali pulih dan ini menarik karena keberhasilan AS hadapi krisis diikuti Thailand. Nah, dari sini kita bisa belajar krisis besar dunia dengan cara membangkitkan daya beli dengan begitu pertumbuhan ekonomi dapat kembali bangkit," ujar Didin.

(Fakhri Rezy)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement