Penyebab Rupiah Menguat, Data Ekonomi RI hingga Perang Dagang

Feby Novalius, Jurnalis · Senin 21 September 2020 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 21 320 2281361 penyebab-rupiah-menguat-data-ekonomi-ri-hingga-perang-dagang-uXp2sxNx7Y.jpg Rupiah Menguat terhadap Dolar AS. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih dipengaruhi beberapa sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Diperkiraan pergerakan Rupiah hari ini Rp14.600-Rp14.850 per USD.

Berdasarkan data Treasury MNC Bank, Senin (21/9/2020), beberapa rilis data ekonomi dalam negeri masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Dimulai dari neraca dagang periode Agustus yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami surplus USD 2,33 miliar. Ekspor USD 13,07 miliar atau lebih tinggi dibandingkan impor sebesar USD 10,74 miliar. Surplus pun diperkirakan akan tetap terjadi selama pandemi berlangsung.

Baca Juga: Rupiah Perkasa, Pagi Ini Menguat ke Rp14.715/USD

Selanjutnya dari Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia periode September 2020 memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4%.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16-17 September 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 4%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,75%," papar Gubernur BI Perry Warjiyo, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Rupiah Bisa Menguat ke Rp14.650/USD tapi Tunggu Keputusan BI

Penguatan Rupiah pada perdagangan akhir pekan kemarin juga didukung oleh respon pasar yang menjadi positif terhadap draf revisi undang-undang Bank Indonesia. Dalam draft tersebut disebutkan tentang perluasan tugas bank sentral untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja melalui sinergi kebijakan moneter dengan pemerintah lewat dewan ekonomi makro yang diketuai Menteri Keuangan. Juga penegasan Gubernur BI bahwa draft tersebut tidak akan mengganggu independensi bank sentral.

Dari AS, The Fed akan mempertahankan suku bunga di level rendah hingga 2023. Jerome Powell, mengumumkan suku bunga tetap 0,25%, sementara nilai pembelian aset (quantitative easing) tidak akan ditingkatkan. Powell juga optimistis terhadap pemulihan ekonomi AS, dengan merevisi proyeksi produk domestik bruto, inflasi, serta tingkat pengangguran.

Sementara, data ketenagakerjaan AS untuk pekan lalu menunjukkan klaim pengangguran awal turun lebih lambat dari yang diharapkan. Klaim pengangguran pada pekan lalu sebesar 860.000 klaim, lebih tinggi daripada 850.000 yang diperkirakan oleh pasar.

Dari inggris, Bank of England (BoE) mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan 0,1% dan mempertahankan program pembelian aset (quantitative easing) senilai 745 miliar poundsterling.

Untuk pekan ini ada beberapa hal yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah. Pertama, kabar dari Inggris terutama di London yang rencananya akan menerapkan kembali lockdown, terkait gelombang kedua dari Covid-19, dimana terjadi lonjakan kasus di kota tersebut.

Kedua yakni ketegangan antara AS-China. Babak baru di perang dagang AS-China makin nyata setelah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memutuskan bahwa administrasi Presiden Donald Trump sebagai pihak yang "kalah".

AS dikatakan WTO melanggar aturan perdagangan global karena memberlakukan tarif miliaran dolar dalam perang dagangnya ke China. WTO mengatakan bea masuk AS melanggar aturan perdagangan karena hanya berlaku untuk China.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini