Ekonomi di Ambang Resesi, Begini Cara Cermat Berinvestasi

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 23 September 2020 21:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 622 2282442 ekonomi-di-ambang-resesi-begini-cara-cermat-berinvestasi-BupPwbQuMH.jpg Tepatkah Investasi saat Pandemi. (Foto: Okezone.com/PTPSP DKI Jakarta)

JAKARTA - Indonesia berpotensi menjadi negara selanjutnya yang mengalami resesi. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui secara terbuka jika kuartal III-2020 ekonomi Indonesia kembali minus.

Dengan demikian, ekonomi Indonesia bisa resesi karena kuartal II-2020 sudah lebih dahulu minus 5,3% secara tahunan (year on year/yoy).

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini mengatakan, dalam situasi sulit dan ancaman krisis, investasi menjadi solusi untuk masa depan. Pasalnya, pertumbuhanya akan terus naik setiap tahunnya.

Baca Juga: Mau Investasi Saham Jelang Resesi, Aman Enggak Ya?

Namun, dalam kondisi pandemi dan juga ekonomi di ambang resesi, para investor dihadapkan dengan ujian berat. Maksudnya jika menggelontorkan uang khawatir investasi yang ditabur anjlok khususnya pasar saham.

Menurut Mike, saat ini pasar investasi khususnya yang berkaitan dengan pasar saham mengalami kontraksi akibat pandemi virus corona. Namun yang tidak banyak diketahui, saat seperti inilah yang menjadi momen pas untuk investasi.

Sebab menurutnya, harga beli dari jenis investasi pada saat ini berada di titik rendah. Sedangkan setelah pandemi virus corona berakhir, indeksnya secara otomatis akan meningkat.

Baca Juga: Tak Percaya, Wanda Kaget Ditransfer Jokowi BLT Rp1,2 Juta

 "Karena adanya resesi menyebabkan pasar investasi mengalami tekanan. Maka di situlah peluang kita mendapatkan atau berinvestasi dengan nilai yang terjangkau," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (23/9/2020).

Mike mengibaratkan, investasi pada situasi sulit seperti ini ibarat membeli sebuah biji yang kemudian ditanam. Memang harga belinya sangat murah, namun jika terus ditanam dan disiram oleh air akan terus tumbuh menjadi pohon yang lebih besar.

Hal tersebut berbeda dengan investasi ketika harga sedang tinggi-tingginya. Potensi keuntungan yang didapat sangat kecil, sedangkan potensi kerugiannya sangat besar ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok.
Kejadian ini diibaratkan seperti membeli sebuah pohon besar yang sudah jadi. Jika pohon tersebut tumbuh, hanya sedikit karena kapasitasnya yang sudah besar atau bahkan akan terlihat sama saja.
 
"Artinya menanam dari biji lagi, tadinya kalau kita beli pohon mangga kan mahal ya beli pohon kan udah jadi ada buahnya memang kita menanam. Kalau kita menanam dari biji beli satu biji kan murah. Tinggal ditanam. Tapi harus sabar nunggunya. Disiram aja terus enggak dicongkel congkel enggak diambil-ambil. Nah kalau dnggak ada krisis kan harganya mahal," kata Mike.

Hal tersebut berbeda dengan investasi ketika harga sedang tinggi-tingginya. Potensi keuntungan yang didapat sangat kecil, sedangkan potensi kerugiannya sangat besar ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok.

Kejadian ini diibaratkan seperti membeli sebuah pohon besar yang sudah jadi. Jika pohon tersebut tumbuh, hanya sedikit karena kapasitasnya yang sudah besar atau bahkan akan terlihat sama saja.

"Artinya menanam dari biji lagi, tadinya kalau kita beli pohon mangga kan mahal ya beli pohon kan udah jadi ada buahnya memang kita menanam. Kalau kita menanam dari biji beli satu biji kan murah. Tinggal ditanam. Tapi harus sabar nunggunya. Disiram aja terus enggak dicongkel congkel enggak diambil-ambil. Nah kalau dnggak ada krisis kan harganya mahal," kata Mike.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini