Efek Corona, 100 Ribu Restoran Tutup dan Hilangnya Pendapatan Rp3.572 Triliun

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 30 September 2020 11:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 320 2286027 efek-corona-100-ribu-restoran-tutup-dan-hilangnya-pendapatan-rp3-572-triliun-eGBSTN8hKm.jpg Restoran Dilarang Makan di Tempat Selama PSBB. (Foto: Okezone.com/Alaturkaturkishrestaurant)

 JAKARTA - Industri restoran menatap 2020 dengan optimisme. Bahkan pengusaha restoran sempat resah dan khawatir akan kekurangan pekerja yang melayani permintaan.

Akan tetapi, pandemi virus corona (Covid-19) membalikan optimisme tersebut. Bahkan karena pandemi banyak pekerja restoran harus dirumahkan bahkan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Sebagian restoran tutup secara permanen karena penurunan omzet. Penyebabnya, masyarakat atau konsumen kini mengubah cara dan tempat mereka makan karena khawatir tertular virus corona.

Baca Juga: Penuhi Protokol Kesehatan, Pengusaha Mal Minta Larangan Makan di Restoran Dicabut

Menurut perkiraan National Restaurant Association ada sekitar 100.000 bar dan restoran atau sekitar 15% dari semua tempat makan dan minum telah ditutup secara permanen. Hal tersebut terjadi setelah Amerika Serikat menerapkan kebijakan untuk berdiam diri di rumah selama lebih dari enam bulan.

Kelompok perdagangan memperkirakan USD240 miliar atau sekitar Rp3.572 triliun penjualan restoran hilang tahun ini karena pandemi.

Baca Juga: Jakarta Rem Darurat, Restoran Boleh Beroperasi tapi Dilarang Makan di Tempat

Memang, tidak semua aspek industri restoran berada dalam kesulitan seperti itu. Misalnya restoran cepat saji yang justru mulai kembali dicari, setelah beberapa tahun lalu sempat menu makanan burger dan kentan goreng ditinggalkan oleh demi makanan yang lebih sehat.

Konsumen juga mengadopsi aplikasi pengiriman pihak ketiga. Karena dengan aplikasi ini cara memesannya yang mudah dan juga cepat.

“Saya pikir pemilik restoran harus berpikir secara lebih sistematis tentang apakah makanan di rumah akan menjadi lebih lazim. Dalam hal apa yang kita makan dan di mana kita makan, itu mungkin akan menjadi guncangan terbesar yang pernah kita lihat dalam kehidupan dewasa kita,” kata Global Lead of Accenture’s Consumer Goods and Services Practice Oliver Wright melansir CNBC, Rabu (30/9/2020).

Program perlindungan gaji yang diberikan oleh pemerintah dimaksudkan untuk membendung beberapa kerugian industri restoran. Namun sayangnnya, pandemi virus corona yang masih terus berlanjut ini mebuyarkan rencana pemerintah.

Alhasil para pengusaha restoran tidak bisa membendung kerugian yang datang.

Menurut survei Asosiasi Restoran pada lebih 3.000 operator, pada Agustus penjualan restoran turun rata-rata 34%. Kehancuran industri restoran juga berarti jutaan kehilangan pekerjaan.

Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, sektor rekreasi dan perhotelan memiliki tingkat pengangguran tertinggi pada Agustus sebesar 21,3%, meskipun turun secara signifikan sejak April.

Dalam jangka pendek, lebih banyak konsumen diharapkan melakukan sebagian besar makan dan minum mereka di rumah. Sebuah survei Accenture pada Juni terhadap lebih dari 8.800 konsumen menemukan bahwa 70% berencana untuk melakukan sebagian besar santapan dan keramahtamahan mereka di rumah selama enam bulan ke depan.

Itu mungkin berarti pesanan takeout dan pengiriman, serta lebih banyak memasak dilakukan oleh masyarakat. Banyak konsumen menjadi lebih mahir di dapur setelah itu menjadi satu-satunya pilihan mereka di hari-hari awal penguncian.

Oleh karena itu, para pengusaha restoran lainnya harus bisa mengadaptasi kebutuhan tersebut dan bisa belajar dari restoran cepat saji yang memiliki nasib lebih cepat. Hal ini dikarenakan berkat penawaran murah, layanan cepat, dan kenyamanan jalur drive-thru mereka.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini