6 Fakta Harga Obat Covid-19 Rp3 Juta, Cek Efek Sampingnya

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 04 Oktober 2020 11:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 03 320 2287887 6-fakta-harga-obat-covid-19-rp3-juta-cek-efek-sampingnya-d6jNRJFPht.jpg Vaksin Corona (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Masuknya obat Covid-19 berjenis remdesivir generik di Indonesia, dengan merek Covifor menjadi angin segar bagi dunia kesehatan.

Ya, ini merupakan obat remdesivir pertama yang didatangkan ke Indonesia, melalui kolaborasi antara PT Amarox Global Pharma dari India dengan PT Kalbe Farma Tbk.

Terkait hal itu Okezone sudah merangkum beberapa fakta tentang Obat Covid-19 tersebut, Jakarta, Minggu (4/10/2020).

1. Dijual dengan Harga Rp 3 Juta

President Director Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, obat dengan merk Covifor tersebut merupakan produksi PT Amarox Global Pharma, perusahaan asal India dan anak usaha perusahaan Hetero akan cukup untuk mengobati pasien Covid-19.

"Harga saat ini sekitar Rp3 juta. Memang ini sangat tergantung volume, kalau permintaan meningkat bisa ditinjau kembali, jadi kita masih terus penuhi " kata President Director Kalbe Farma Vidjongtius dalam video virtual, Kamis (1/10/2020).

Baca Juga: BPOM Beri Lampu Hijau Remdesivir Jadi Obat Pasien Covid-19 

2. Stok Obat Tidak Terbatas

 

Vidjongtius memastikan suplai obat tersebut tidak terbatas karena Amarox mampu menyediakannya serta akan memasarkan dan mendistribusikannya di Indonesia.

"Amarox India punya kapasitas besar, dan disesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia," katanya.

3. Penjualan Obat Hanya di Rumah Sakit

Dia menambahkan, penjualan obat untuk penanganan pasien covid-19 tersebut tidak dijual eceran di apotek melainkan hanya dijual di rumah sakit saja.

"Distribusi obat ini akan langsung ke rumah sakit, tidak bisa ke instalasi yang lain, apotek. Kami yakinkan distribusi ini bisa dilakukan dengan tepat di RS tersebut," tandasnya.

 

4. 25 Pasien RSPP Berusia di Atas 18 Tahun Jalani Uji Coba Obat Covivor

Dokter Spesialis Penyakit Paru dr Erlina Burhan, SpP(K) menjelaskan, obat tersebut nantinya akan diujicobakan ke 25 pasien Covid-19 kondisi kritis. Dia melanjutkan, tapi tidak sembarangan pasien bisa mendapatkan injeksi obat ini.

Namun, ada 5 persyaratan, yaitu usia pasien di atas 18 tahun, sudah terkonfirmasi Covid-19, kondisi pasien dalam situasi kritis, dengan tanda saturasi oksigen di bawah 94 persen, pasien sedang menjalani pengobatan menggunakan ventilator, keluarga dan pasien menyetujui uji coba dengan menandatangani persetujuan diberikan obat.

5. Ini Efek Samping Penggunaan Obat Covivor

Erlina menjelaskan, bahwa obat yang mengandung Remdesivir ini memiliki efek samping yang perlu dikenali oleh pemakainya.

"Diduga, obat ini akan memengaruhi hati atau liver dan juga ginjal pasien Covid-19. Karena itu juga, obat ini tidak diperkenankan diberikan untuk pasien Covid-19 yang memiliki riwayat penyakit ginjal dan liver," ujarnya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) memberikan persetujuan obat Covifor yang mengandung Remdesivir digunakan untuk pasien Covid-19. Namun, obat tersebut mesti melakukan uji klinis dulu Oktober ini.
Dijelaskan Country Manager of PT Amarox Pharma Global, Sandeep Sur, obat Covifor sendiri sejatinya sudah melalui uji klinis yang ketat, tapi peraturan yang diberikan Badan POM untuk melakukan uji klinis lagi di Indonesia harus dijalani.
"Uji klinis tersebut akan dilakukan Oktober ini dan melibatkan 25 pasien Covid-19 dengan kondisi parah. Durasi penelitian ialah tiga bulan," terangnya dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Sabtu (3/10/2020).

6. Persetujuan BPOM

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) memberikan persetujuan obat Covifor yang mengandung Remdesivir digunakan untuk pasien Covid-19. Namun, obat tersebut mesti melakukan uji klinis dulu Oktober ini.


Dijelaskan Country Manager of PT Amarox Pharma Global, Sandeep Sur, obat Covifor sendiri sejatinya sudah melalui uji klinis yang ketat, tapi peraturan yang diberikan Badan POM untuk melakukan uji klinis lagi di Indonesia harus dijalani.

"Uji klinis tersebut akan dilakukan Oktober ini dan melibatkan 25 pasien Covid-19 dengan kondisi parah. Durasi penelitian ialah tiga bulan," terangnya dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Sabtu (3/10/2020).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini