5 Perjalanan Sukses Berkarier, Ingat Jangan Ghibah

Safira Fitri, Jurnalis · Rabu 07 Oktober 2020 13:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 07 320 2289811 5-perjalanan-sukses-berkarier-ingat-jangan-ghibah-3A2Q62VYUW.jpg Pelajaran untuk Sukses Berkarier. (Foto: Okezone.com/Independent)

JAKARTA - Sukses karier menjadi harapan setiap orang. Di samping itu, menjalani awal karier, seseorang sangat mungkin mengalami perasaan positif ataupun negatif.

Sejatinya kesuksesan berkarier bergantung pada diri sendiri. Seperti halnya, tidak ada sukses yang datang secara instan, maka perlu banyak pelajaran yang harus diterima lebih dulu dalam mencapainya.

Perencana Keuangan Prita Ghozie mengatakan, membawa diri untuk langkah yang benar menuju kesuksesan dapat dipelajari dengan banyak hal.

Baca Juga: 4 Cara Tingkatkan Kepercayaan Diri saat Wawancara Kerja

"Weekend kemarin aku habiskan dengan nonton series yang lagi hits di kalangan netizen yaitu Emily in Paris. Walaupun ceritanya ringan, tapi banyak hal yang bisa dipetik terutama soal career lessonsnya sebagai Marketing Executive yang ditugaskan di Paris-based office. Aku dapet 5 hal," kata Prita, dalam Instagramnya @pritaghozie, Jakarta, Rabu (7/10/2020).

Adapun career lessons yang dapat dipelajari dari film Emily in Paris, pertama understand the culture. "Emily's biggest mistake? Kerja di Perancis tanpa mempelajari bahasanya. Plus banyak lagi perbedaan kultur yang gagal dipahami di awal. Setiap tempat kerja memiliki corporate culture tertentu. Memahami dan mau blend-in ke dalam kultur akan memudahkan terciptanya teamwork yang baik," ujarnya.

Prita berpesan, bahwa untuk para first-jobber, ada baiknya riset terlebih dahulu budaya perusahaan sebelum mengirim aplikasi maupun menghadiri undangan interview. Tidak ada kandidat yang lebih buruk daripada kandidat yang sekedar cari kerja atau "mau belajar", sebab perusahaan butuh pekerja yang profesional.

Kedua adalah find the balance between work and life. "Memang sih, di dunia yang saat ini mengintegrasi work-life, rasanya sulit banget memisahkan keduanya. Namun, percaya deh, diri kita sendiri yang harus mampu memisahkan," ujarnya.

Baca Juga: 5 Tanda Stres karena Pekerjaan, Sering Marah Salah Satunya

Dia menambahkan, misalnya seperti untuk bicarakan dengan alasan dan rekan kerja mengenai kebutuhan privasi, tidak bicara pekerjaan di acara santai, pakai aplikasi productivity untuk scheduling, dan mematikan notifikasi chat di akhir pekan jika jenis pekerjaan memungkinkan.

"Oh ya, kurang-kurangin ghibah antar rekan kerja deh. Bayangin ya, jika kita aja bisa, artinya kita juga bisa dighibahin orang," lanjutnya.

Ketiga, bring out your best values. "Meski pun awalnya, sampai akhir sih, Emily gak disukai rekan kerja. Tapi dia gak nyerah, why? Karena she takes it as a challenge," ujar Prita.

Lalu bagaimana? Kenali diri sendiri dan pahami value baik apa yang bisa diberikan pada perusahaan. Pada akhirnya, jika rekan kerja bisa melihat value diri kita, maka saling respect pun akan mulai terbangun.

Keempat, be part of the solution, not the ploblem. "Ada satu scene yang aku suka banget saat Emily sadar salah reservasi untuk business meeting penting, dia tidak langsung escalate masalah itu ke atasannya. Tapi, Emily langsung mencari solusi dan bahkan menyampaikan disaster itu menjadi good news dan great news," ujarnya.

Jika terbiasa menjadi karyawan yang solutif dan enak diajak kerja bareng, dipastikan referensi pekerjaan dan masa depan karir akan sangat cerah.

Kelima, bounce back from our problem. "Putus cinta, lousy apartment, dan lainnya adalah masalah pribadi. Tapi, jangan jadikan masalah pribadi itu merusak karir dan pekerjaan yang kita lakukan. Be like Emily, yang bisa secepat itu mengkompartemen masalah hidupnya sehingga tidak berpengaruh buruk ke pekerjaannya," ujar Prita.

Menurutnya, setiap orang punya masalahnya tersendiri, gak perlu seluruh dunia tahu masalah hidup orang lain, tapi jika tidak sanggup menyelesaikan sendiri, minta bantuan pakar tidak ada masalah.

"When the work we do provide us with a sense of purpose, then we will be able to pour ourselves into it with joy. The purpose of life is to discover our gift, and the meaning of life is to give that gift away," tutup Prita.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini