Share

Kontribusi Terbesar PDB tapi Peran Manufaktur 10 Tahun Menurun

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 08 Oktober 2020 13:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 08 320 2290379 kontribusi-terbesar-pdb-tapi-peran-manufaktur-10-tahun-menurun-5hSNjC2G0q.jpg Manufaktur (Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah akan fokus meningkatkan kualitas industri manufaktur dalam hal pemulihan ekonomi nasional. Pasalnya, sektor itu berkontribusi besar dalam menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) Tanah Air.

Staf Ahli Menteri PPN/Kepala Bappenas Chairil Abdini menyebut perlunya industri manufaktur didorong sebagai lokomotif penyerapan bonus demografi, karena terbukti kontribusinya dalam PDB.

 Baca juga: Aktivitas Manufaktur Menurun, Apa yang Akan Dilakukan Kemenkeu?

"Meskipun peranannya cenderung turun dalam 10 tahun terakhir, kontribusi industri manufaktur dalam GDP atau PDB masih yang terbesar," kata Chairil dalam keterangan tertulis, Kamis (8/10/2020).

Dia menjelaskan, bahwa industri makanan dan minuman, logistik, farmasi masih tumbuh baik meski pangsa pasarnya terus digerus produk-produk impor.

Menurut dia, supaya sektor tersebut bisa menyerap tenaga kerja yang lebih besar lagi, maka kapasitasnya harus ditingkatkan. Salah satu caranya adalah mengurangi impor barang sejenis.

 Baca juga: Menperin Khawatir PSBB Jakarta Tekan Sektor Industri Manufaktur

"Jika ada kemandirian industri manufaktur tentunya akan terjadi penyerapan tenaga kerja yang luar biasa," ujarnya.

Sementara itu, Ekonom dari Universitas Nasional Irma Indrayani meminta kepada pemerintah untuk tak mencemaskan adanya bonus demografi Indonesia yang diperkirakan Bappenas jumlahnya mencapai 64% dari total jumlah penduduk sebanyak 297 juta jiwa pada tahun 2030-2040.

“Jepang melesat menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ketiga dunia pada dekade 70-an setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet,” ujarnya.

Dia mengimbau perlunya memanfaatkan peluang di sektor industri untuk menyerap bonus demografi. Hal ini mengingat sebagian besar latar belakang pekerja Indonesia masih berpendidikan SD, SMP dan SMA.

“Industri padat karya, minim modal, produk retail seperti produk makanan dan minuman, tekstil, furnitur, logistik, dan transportasi bisa menjadi pilihan untuk menyerap banyak tenaga kerja,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini