Bos BKPM: Belum Ada Investor Batalkan Investasi Gegara Demo

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 08 Oktober 2020 20:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 08 320 2290677 bos-bkpm-belum-ada-investor-batalkan-investasi-gegara-demo-OqZpgNhnPn.jpg Demo Tolak UU Cipta Kerja. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Masyarakat dan para buruh melakukan aksi demo menolak Undang-Undang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) yang baru saja disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Aksi demonstrasi ini berlangsung di beberapa daerah Indonesia.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, demo penolakan Undang-Undang Cipta Kerja yang berlangsung pada hari ini tidak mengganggu iklim investasi di Tanah Air. Sebab hingga saat ini belum ada rencana investor untuk membatalkan rencana investasinya.

Baca Juga: 64 Kali Rapat, Menaker: UU Cipta Kerja Libatkan Serikat Pekerja dan Transparan

"Saya ingin mengatakan sampai hari ini belum ada niat investor yang membatalkan gara-gara demo atau mengganggu iklim investasi," ujarnya dalam acara video conference, Kamis (8/10/2020).

Bahlil menambahkan, dirinya tidak mempermasalahkan aksi demo yang dilakukan masyarakat. Sebab berdemo merupakan salah satu instrumen dalam berdemokrasi di Indonesia.

Hanya saja, dirinya meminta kepada peserta aksi untuk tidak melakukan tindakan anarkis. Apalagi, saat ini kondisi Indonesia masih berat karena harus menghadapi pandemi virus corona (covid-19).

"1997-1988 (saya juga ikut demo). Sempat ditahan akibat demo dan saya kali ini melihat memotret diri saya demo bagian dari instrumen. Saya pikir Insya Allah kita berdoa untuk mendapatkan yang terbaik agar ini bisa selesai," jelasnya.

Baca Juga: BKPM: 35 Investor Kritisi UU Cipta Kerja Tak Pernah Investasi di RI

Bahlil juga meminta kepada peserta demo untuk tidak terprovokasi dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena isu ini bisa rawan untuk dimanfaatkan kelompok tak bertanggung jawab untuk menggiring opini.

“Dalam pandangan kami dalam beberapa hari ini rasa-rasanya ini kita sudah mulai masuk pada suatu pola di mana ada terkesan sekelompok tertentu yang ingin untuk menggiring fakta menjadi sesuatu yang bukan fakta dengan kepentingan kelompoknya masing-masing,” jelasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini