Bagaimana Potensi Investasi Saham saat Resesi?

Fadel Prayoga, Jurnalis · Selasa 13 Oktober 2020 17:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 13 622 2293015 bagaimana-potensi-investasi-saham-saat-resesi-EeGpdSvLCu.jpeg Indeks Saham Harga Gabungan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Ancaman resesi ekonomi Indonesia semakin dekat. Jika sesuai agenda, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan kondisi ekonomi Indonesia pada November 2020.

Resesi ekonomi dikhawatirkan berdampak pada kinerja pasar saham. Lalu, bagaimana peluang investasi saham di saat perekonomian tanah air sedang bergejolak?

Baca Juga: 20 Tahun Bisnis Keripik Singkong Mulai Goyang akibat Covid-19

Menurut Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini invetasi saham masih berpeluang menciptakan keuntungan, meski kini kondisinya sedang mengalami tekanan. Namun, para investor harus jeli dalam melihat potensi saham mana saja yang cuan saat ini.

Dia menilai, kini harga-harga saham sedang rendah, sehingga perusahaan-perusahaan pun akan menurunkan harganya. Oleh sebab itu, ketika membeli pun harus bisa memilih-milih perseroan mana yang bisa berpotensi menguntungkan atau malah merugikan.

Baca Juga:  Manfaatkan Peluang Resesi dengan Ciptakan Bisnis Baru

“Kalau sekarang ini biasanya harganya sedang murah. Bagi yang bisa memanfaatkan peluang saat ini dan memiliki sejumlah harta dia bisa masuk membeli saham-saham yang bagus namun dihargai murah,” ujarnya kepada Okezone, Selasa (13/10/2020).

Menurut dia, dalam berinvestasi saham itu harus bersabar, sehingga jangan mengharapkan untung dalam waktu yang cepat. Pasalnya, produk investasi itu baru bisa menghasilkan keuntungan ketika sudah membelinya dalam jangka waktu lima atau sepuluh tahun.

“Asal jangka panjang. Tidak bisa untuk untung cepat. Kalau secara statistic di atas 5-10 tahun harga saham pasti naik,” ujarnya.

Dia mengimbau bila memang nantinya memutuskan untuk beinvestasi di jenis saham, yang paling penting itu adalah tidak gegabah dalam memilih perusahaanya. “Harus jeli melihat saham yang mengalami volatilitas saham-saham yang bagus tapi supply and demand yang lagi bergejolak,” kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini