Bukti Industri Manufaktur RI Membaik meski Ada Corona

Ferdi Rantung, Jurnalis · Kamis 15 Oktober 2020 14:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 320 2294107 bukti-industri-manufaktur-ri-membaik-meski-ada-corona-GxSBTEhiDG.jpg Indeks Manufaktur Meningkat. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kinerja industri manufaktur Indonesia mulai merangkak naik pada kuartal III-2020. Meski diakui bahwa tekanan karena pandemi Covid-19 masih sangat berat.

Data Prompt Manufacturing Index-Bank Indonesia (PMI-BI) menunjukkan bahwa indeks manufaktur Indonesia di kuartal III-2020 sebesar 44,91% atau naik dibanding periode II-2020 yang tercatat di angka 28,55%. Capaian positif tersebut ditopang seluruh subsektor industri yang membaik kinerjanya pada periode yang sama.

Baca Juga: Menko Airlangga Yakin PSBB Transisi Tingkatkan Indeks Manufaktur

Dalam laporan BI, volume produksi di sektor manufaktur pada kuartal III-2020 tercatat mengalami peningkatan dengan indeks sebesar 45,35% atau lebih tinggi dari kuartal sebelumnya sekitar 25,36%. Perbaikan indeks volume produksi sejalan dengan peningkatan permintaan setelah pemberlakuan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) sejak awal Juli 2020. Pada kuartal IV-2020, volume produksi diproyeksi terus membaik sejalan dengan ekspektasi aktivitas industri yang membaik.

Baca Juga: Kontribusi Terbesar PDB tapi Peran Manufaktur 10 Tahun Menurun

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, saat ini pelaku industri di Tanah Air terus berupaya menempuh sejumlah penyesuaian untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan usaha.

“Salah satu langkah yang sedang dijalankan untuk menekan dampak pandemi adalah dengan memanfaatkan teknologi,” jelasnya di Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Inisiatif itu sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, yang menjadi arah dan strategi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas secara lebih efisien sehingga akan mendongkrak daya saing hingga kancah global.

“Untuk bisa unggul dalam berkompetisi, inovasi dan teknologi menjadi investasi penting yang perlu dihadirkan, misalnya melalui peran startup sebagai technology provider,” imbuhnya.

Menperin menyebutkan, sebagai langkah strategis lainnya, pemerintah telah menetapkan target program substitusi impor sebesar 35% pada tahun 2022 yang juga dilakukan dalam akselerasi pemulihan ekonomi nasional (PEN) akibat dampak pandemi Covid-19. “Untuk itu, industri harus dapat bergegas meraih berbagai potensi pasar baru yang akan muncul,” tuturnya.

Lebih lanjut, tujuan kebijakan PEN yang diluncurkan oleh pemerintah diarahkan guna melindungi, mempertahankan dan meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat. “Jadi, arahnya ditujukan untuk menciptakan iklim Indonesia yang aman, sehat, dan kondusif dalam rangka membangun kepercayaan investor dan masyarakat,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini