Cerita di Balik Hari Pangan Sedunia 16 Oktober

Fadel Prayoga, Jurnalis · Jum'at 16 Oktober 2020 07:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 320 2294280 cerita-di-balik-hari-pangan-sedunia-16-oktober-o8qSZRFaRR.jpg Peringati Hari Pangan Sedunia. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pangan menjadi faktor penting dalam kehidupan. Seluruh negara pun menaruh perhatian khusus pada ketahanan pangan masing-masing.

Seluruh dunia memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh pada tanggal 16 Oktober. Sejarah peringatan hari pangan sedunia bermula dari konferensi FAO ke-20, bulan November 1976 di Roma yang memutuskan untuk dicetuskannya resolusi No179 mengenai World Food Day.

Baca Juga: 4 Strategi agar Sektor Pertanian Tetap Tumbuh saat Resesi

Mengutip data dari Dinas Pangan Sumatera Barat, Jumat (16/10/2020), resolusi disepakati oleh 147 negara anggota FAO, termasuk Indonesia, menetapkan bahwa mulai tahun 1981 segenap negara anggota FAO setiap tanggal 16 Oktober memperingati HPS atau World Food Day.

Berdasarkan catatan Okezone, Peringatan yang dilakukan setiap tahun ini menyoroti perlunya upaya yang lebih keras untuk mengakhiri kelaparan dan bentuk-bentuk kekurangan gizi lainnya.

Peringatan ini juga diadakan untuk memastikan keamanan pangan dan pola pangan sehat tersedia untuk semua orang.

Agenda Terbesar di Kalender PBB

Hari Pangan Sedunia dirayakan setiap tahun, tepat pada hari lahir FAO. Hari ini adalah salah satu hari terbesar dalam kalender PBB.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Timbulkan Risiko Mutu Pertanian, Apa Langkah Mentan?

Dalam beberapa dekade terakhir, secara dramatis perubahan zaman telah mengubah pola pangan sebagai akibat dari globalisasi, urbanisasi, dan bertambahnya pendapatan.

Secara tidak sadar, telah terjadi peralihan pola dari pangan musiman, terutama produk nabati yang kaya serat, pada makanan yang kaya akan pati, gula, lemak, garam, makanan olahan, daging, dan produk hewani lainnya.

Waktu yang dihabiskan untuk menyiapkan makanan di rumah semakin sempit. Konsumen, terutama di daerah perkotaan, semakin bergantung pada supermarket, gerai makanan cepat saji, makanan kaki lima dan makanan pesan antar.

Kombinasi dari pola pangan yang tidak sehat serta gaya hidup yang kurang aktif telah menjadi faktor risiko pembunuh nomor satu di dunia. Kebiasaan ini telah membuat angka obesitas melonjak, tidak hanya di negara maju, tetapi juga di negara-negara berpendapatan rendah, di mana kekurangan dan kelebihan gizi sering terjadi bersamaan.

Berdasarkan catatan perayaan HPS 2019, lebih dari 670 juta orang dewasa dan 120 juta anak perempuan dan laki-laki (5–19 tahun) mengalami obesitas, dan lebih dari 40 juta anak balita kelebihan berat badan, sementara lebih dari 800 juta orang menderita kelaparan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini