Sri Mulyani Pede Industri Makanan Minuman Bakal Moncer

Rina Anggraeni, Jurnalis · Selasa 20 Oktober 2020 08:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 20 320 2296371 sri-mulyani-pede-industri-makanan-minuman-bakal-moncer-Ys40PrwWJM.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Instagram @SMIndrawati)

JAKARTA - Pemerintah terus memetakan sektor industri mana saja yang bakal menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah farmasi serta makanan dan minuman (mamin).

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan industri makan dan minum serta sektor usaha yang bertransformasi digital dan farmasi menjadi usaha yang diproyeksi akan tumbuh setelah pandemi Covid-19.

 Baca juga: Industri Makanan Minuman Diprediksi Tumbuh 3% hingga Akhir 2020

"Ada sektor yang selama ini menunjukkan kondisi jauh lebih positif seperti farmasi yang mengalami gain besar. Lalu ditambah sektor makanan dan minuman yang cukup tinggi," ujar Sri Mulyani dalam video virtual, Selasa (20/10/2020).

Dia melanjutkan pergerakan konsumsi, listrik, ekspor, impor bahan baku dan barang modal yang cukup positif dan solid, belanja bansos yang tumbuh luar biasa tinggi secara month to month.

 Baca juga: Pengusaha Mamin: Kami Butuh 560 Ribu Ton Garam Impor

Sedangkan dari sisi deflasi, dari sisi daya beli masyarakat atau agregat demand masih mengalami tekanan namun tidak menggerus daya beli masyarakat.

Meskipun Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia sedikit mengalami penurunan di bawah treshold ekspansi namun kinerja belanja pemerintah mengalami akselerasi luar biasa termasuk belanja Pemulihan ekonomi Nasional (PEN).

 Baca juga: Industri Mamin Anjlok, Pengusaha Jaga Mata Rantai Pasokan di Market Place

"Kinerja belanja pemerintah termasuk PEN mengalami akselerasi yang luar biasa pada bulan September ini. Pemerintah betul-betul menggunakan semua toolsnya baik belanja K/L, belanja PEN maupun transfer ke daerah. Kita berharap seluruh K/L konsisten pada kuartal keempat ini. Pemerintah daerah (Pemda) kita masih terus monitor secara ketat karena cukup besar dana yang tertransfer," tandasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini