Share

Perusahaan Raksasa Energi di Dunia Ramai-Ramai PHK Karyawan

Sabtu 31 Oktober 2020 21:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 31 320 2302073 perusahaan-raksasa-energi-di-dunia-ramai-ramai-phk-karyawan-MtO0eUKgS9.jpeg Karyawan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Perusahaan minyak dan gas di seluruh dunia mulai melakukan PHK dan memangkas pekerja. Hal ini dilakukan demi bertahan dari situasi melemahnya permintaan minyak mentah yang berkepanjangan.

Rystad Energy melaporkan, secara keseluruhan, lebih dari 400 ribu pekerjaan di sektor minyak dan gas telah dipangkas tahun ini. Sekitar setengah dari pekerjaan tersebut berada di Amerika Serikat, tempat beberapa perusahaan eksplorasi besar dan sebagian besar perusahaan jasa minyak besar bermarkas.

Baca Juga: Menaker Sebut Hanya 7% Perusahaan Patuh soal Hak Pesangon 

Pandemi Covid-19 telah menghancurkan sebagian besar ekonomi global. Perusahaan energi sudah berjuang dengan tingkat pengembalian investasi yang rendah, terutama yang beroperasi di kawasan gas serpih (shale gas) AS, tetapi tetap harus memangkas biaya karena investor menekan perusahaan untuk meningkatkan margin.

“Realitas era Covid di seluruh industri minyak adalah penghematan dalam skala yang luar biasa. Tidak dapat dihindari fakta bahwa ini berarti, antara lain, kehilangan pekerjaan, ” kata Pavel Molchanov, analis di Raymond James dilansir dari VOA, Sabtu (31/10/2020).

 

Selain Exxon, Chevron Corp, Woodside Petroleum Ltd Australia dan Cenovus Energy Inc Kanada, semua perusahaan minyak mengumumkan rencana untuk melakukan PHK dalam beberapa pekan terakhir.

Permintaan bahan bakar global merosot lebih dari sepertiga di musim semi. Meskipun konsumsi telah pulih, tapi tetap lebih rendah dari tahun lalu akibat kebijakan negara-negara besar yang menerapkan karantina wilayah lebih lanjut untuk menahan pandemi.

Penurunan sangat parah di Amerika Serikat, produsen minyak mentah terbesar di dunia. Negara ini telah mencatat kematian terbanyak akibat virus korona, dan kerusakan akibat pandemi telah menyebabkan pengangguran menjadi sekitar 8%.

Menteri Energi AS, Dan Brouillette, mengatakan tidak mungkin untuk kembali ke puncak angka konsumsi, mendekati 13 juta barel per hari, yang dicapai pada 2019. Industri serpih terkena dampak pandemi karena mudah bagi perusahaan minyak untuk memangkas staf dan pengeluaran di sektor tersebut.

Teknik pengeboran fracking telah menjadi masalah utama dalam kampanye kepresidenan AS. Penantang Demokrat Joe Biden ingin membatasi fracking di tanah federal, sementara Presiden Donald Trump telah mendorong lebih banyak pengeboran, dan berpendapat bahwa posisi Biden akan menghancurkan pekerjaan.

Konsolidasi telah mendorong terjadinya PHK. Chevron berencana untuk memangkas sekitar 25% dari staf yang diperoleh dengan Noble Energy setelah diakusisi pada bulan ini. Shell mengatakan produksi minyaknya kemungkinan mencapai puncaknya tahun lalu, dan berencana untuk memangkas sekitar 10% dari tenaga kerjanya. Sedangkan Cenovus mengatakan akan memotong 25% setelah membeli saingannya Husky Energy.

Di Australia, lebih dari 2.000 pekerjaan di industri minyak telah dipangkas sejak Maret, termasuk di Exxon dan Chevron. Produsen gas independen terkemuka Woodside mengatakan awal bulan ini bahwa mereka akan memangkas sekitar 8% tenaga kerjanya.

Sekretaris Jenderal Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Mohammad Barkindo baru-baru ini menyatakan keprihatinan bahwa laju permintaan minyak di bawah ekspektasi, berpotensi mengharuskan produsen besar untuk mempertahankan pengurangan produksi

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini