Ternyata Kenaikan UMP Bikin Gaji Buruh Lebih Kecil, Kok Bisa?

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 02 November 2020 18:43 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 02 320 2302972 ternyata-kenaikan-ump-bikin-gaji-buruh-lebih-kecil-kok-bisa-W0U5CBXGYP.jpg Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Para pengusaha menyebut Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Nomor M/6/HI.00.01/v/2020 tentang Upah Minimum Provinsi (UMP) sudah tepat. Tujuannya adalah agar para pelaku usaha bisa mematuhi aturan batas upah minimum bagi buruh dan pekerja.

Oleh karena itu, para pengusaha sangat menyayangkan beberapa provinsi yang tidak mematuhi surat edaran tersebut. Misalnya saja Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur hingga DKI Jakarta yang memutuskan tetap menaikan UMP bagi perusahaan yang tak terdampak covid.

Baca Juga: Pengusaha Kecewa Berat Gubernur Naikan UMP 2021

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani mengatakan, dengan adanya kenaikan UMP di beberapa provinsi yang menolak ini juga akan berpengaruh pada perusahaan dan pekerja. Bagi pekerja, kenaikan UMP ini justru membuat upah riilnya akan jauh lebih kecil.

“Kalau upah minimum nya menjadi tinggi, nanti upah riil nya di bawah upah minimum. Itu yang terjadi sekarang,” ujarnya saat ditemui di Kantor APINDO, Senin (2/11/2020).

Sedangkan para pengusaha juga tidak mampu untuk membayar upah yang sesuai dengan UMP. Apalagi di tengah pandemi ini, beberapa pengusaha bahkan sudah terbukti membayarkan upah di bawah UMP karena arus kas yang terdampak covid.

“Ini juga terjadi di banyak daerah terutama daerah-daerah yang upah minimumnya tinggi itu kebanyakan ketidakpatuhannya menjadi sangat besar karena tadi upah riilnya ternyaat dibawah upah minimum, itu,” jelas Hariyadi.

Menurut Hariyadi, hal tersebut terjadi karena ada ketidakseimbagan antara permintaan dan penawaran. Karena para buruh menuntut upah tinggi namun pada kenyataannya pengusaha tak mampu memenuhinya.

Oleh karena itu lanjut Hariyadi, SE Menaker ini sudah sangat tepat. Karena para pengusaha diwajibkan mematuhi standar UMP yang ditetapkan meskipun tidak mengalami kenaikan, sehingga upah riil yang diterima pun bisa sesuai dengan UMP atau bahkan di atas.

“Itu menunjukkan tidak seimbangnya antara permintaan dan penawaran, jadi yang bisa memberikan nilai sedemikian itu relatif sedikit. Kebanyakan enggak bisa, akhirnya terjadi seperti ini,” kaya Hariyadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini