Raup Laba Rp1,7 Triliun, Bos PTBA: Tak Banyak Perusahaan Untung

Aditya Putra, Jurnalis · Jum'at 06 November 2020 10:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 06 278 2305160 raup-laba-rp1-7-triliun-bos-ptba-tak-banyak-perusahaan-untung-Sp97sjojfe.jpg Rupiah (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) berhasil mencatatkan laba bersih di kuartal III-2020. Adapun laba bersih yang dicetak PTBA sebesar Rp1,7 triliun.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan, pihaknya bersyukur masih bisa membukukan laba bersih meskipun di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang turut mengganggu kinerja perseroan. Salah satunya adalah penurunan konsumsi energi akibat diberlakukannya lockdown di beberapa negara tujuan ekspor seperti China dan India.

Baca Juga: Bukit Asam Kantongi Laba Bersih Rp4,2 Triliun Sepanjang 2019

Begitu juga dengan kondisi di dalam negeri yang menjadi pasar mayoritas PTBA. Turunnya konsumsi listrik di wilayah besar Indonesia seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa dan Bali juga berdampak turunnya penyerapan batu bara domestik.

"Alhamdulillah di tengah kondisi pandemi yang demikian mengganggu aktivitas bisnis, kita masih bisa membukukan keuntungan sebesar Rp1,7 triliun per September 2020. Tentu ini suatu yang harus kita syukuri, tidak banyak perusahaan baik perusahaan publik maupun non publik, baik BUMN dan non BUMN, baik perusahaan kecil maupun besar yang bisa untung di era ini," ujar Arviyan dalam video conference PTBA, Jumat (6/11/2020).

 Rupiah Melemah di Angka Rp14.777/USD

Arviyan menambahkan, torehan tersebut didukung oleh beberapa hal, terutama adalah faktor efisiensi yang dilakukan PTBA secara terus menerus. Dari pencapaian laba tersebut, sisi volume produksi perseroan selama hingga kuartal III-2020 mencapai 19,4 juta ton, angkutan 17,7 juta ton, penjualan 18,6 juta ton dan pendapatan selama sembilan bulan 2020 ini mencapai Rp12,8 triliun.

"Aset perusahaan per September 2020 tercatat masih kuat berada di angka Rp24,5 triliun, dengan komposisi kas dan setara kas termasuk deposito berjangka sebesar Rp6,1 triliun atau 25% dari total aset," katanya.

Harga batu bara yang terus merosot selama tiga triwulan ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi perseroan. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga batu bara acuan (HBA) ini merosot sekitar 24% dari USD65,93 per ton pada bulan Januari 2020 menjadi USD49,92 per ton pada bulan September 2020.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini