Resesi, Chatib Basri Ramal Ekonomi Indonesia Baru Pulih 2022

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 09 November 2020 14:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 09 320 2306651 resesi-chatib-basri-ramal-ekonomi-indonesia-baru-pulih-2022-fzQo5AC97Q.jpg Indonesia Alami Resesi. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, selama pandemi ekonomi belum diatasi Indonesia, belum akan merangkak ke fase pemulihan investasi. Menurutnya, saat ini yang terjadi adalah yang penting selamat.

“Akan ada periode yang disebut sebagai survival, itu adalah sekarang, mencapai titik terendah di quarter kedua, improve sedikit di quarter ketiga, naik lagi terus, tapi belum sampai ke normal, selama pandemi masih jadi problem, saya melihat periodenya periode survival,” jelasnya, Senin (9/11/2020).

Baca Juga: Menko Airlangga: Resesi Indonesia Paling Baik se-Asean

Setelah pandemi bisa diatasi, kegiatan ekonomi mengarah ke normal baru bisa masuk ke tahap pemulihan.

“Recoverry hanya bisa dilakukan kalau pandeminya harus bisa di-address, kalau tidak bisa di-address Anda akan berhadapan yang saya sebut skala ekonomi. Kalau kapasitas terpasangan masih banyak, saya nggak mungkin beroperasi 100%, ngapain saya berinvestasi kan?” lanjutnya.

Baca Juga: Waspada Resesi Makin Parah, Sektor Keuangan Terancam

Menurut Chatib, invetasi akan kembali masuk ketika ekonomi sudah mulai normal.

“Hitungan sederhana ekonomi kita baru masuk kondisi normal itu di 2022, di situlah kita baru bisa bicara ekspansi, investasi swasta dan macam-macam,” tambahnya.

Pada saat itu penting memastikan adanya kemudahan dan kepastian investasi terutama di daerah. Selain, perlu memasukan prinsip pembangunan berkelanjutan yaitu mengedepankan isu lingkungan dan perlindugan sosial. Tren sumber-sumber dana global saat ini menurut Chatib punya perhatian besar pada isu tersebut dalam keputusan investasinya.

“Mereka mulai menghindari pembiayaan sektor-sektor yang dinilai mengganggu environment, financingnya sudah agak susah,” tambahnya. Untuk itu, campur tangan pemerintah sangat penting, misalnya dengan menghapus subsidi bahan bakar fosil untuk mendorong penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan.

Sementara itu, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Hidayat Amir sepakat dengan analisis Chatib Basri, bahwa saat ini ekonomi Tanah Air berada dalam fase survival.

“Makanya yang dilakukan pemerintah dengan APBN 2020 dan akan diteruskan pada 2021, sepanjang Covid masih ada, prioritasnya ya menangani kesehatan,” katanya. Di masa survival, kata Hidayat memang berat untuk mendorong investasi.

Meski demikian Hidayat meyakini situsai survival sangat sementara, terlebih sebagai negara berkembang Indonesia sangat menjanjikan.

“Pasti akan terjadi recovery, dan harapannya recovery itu tidak hanya cukup mengembalikan pada situasi awal, tetapi juga menjaga momentumnya,” tambahnya. Artinya, pada saat pemulihan nanti seharusnya sisi investasi bisa bergerak lebih cepat dengan disokong bukan hanya kebijakan fiskal tetapi juga penyederhanaan regulasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini