Waspada Resesi Makin Parah, Sektor Keuangan Terancam

Kunthi Fahmar Shandy, Jurnalis · Senin 09 November 2020 11:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 09 320 2306481 waspada-resesi-makin-parah-sektor-keuangan-terancam-sdNPYsBWx6.jpg Indonesia Alami Resesi. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 mengisyaratkan tidak adanya perubahan berarti bagi sektor-sektor perekonomian Indonesia. Sektor jasa kesehatan, pengadaan air dan informasi dan komunikasi, serta pertanian, jasa pendidikan dan real estate yang tetap tumbuh positif mengikuti jejaknya sejak kuarta II-2020.

"Sektor perdagangan, konstruksi, pertambangan, transportasi dan pergudangan, akomodasi makan dan minum, jasa lainnya dan jasa perusahaan serta pengadaan listrik dan gas tetap tumbuh negatif sama dengan kuartal II-2020," kata Ekonom Indef Eko Listiyanto di Jakarta, Senin (9/11/2020).

Baca Juga: Ekonomi RI Kuartal IV Diprediksi Masih Minus, Kenapa?

Hanya sektor administrasi pemerintahan yang bergerak positif yang ditopang oleh belanja pemerintah namun sumbangannya masih relatif kecil bagi PDB.

Dia menilai, pada kuartal III-2020 mengisyaratkan ancaman yang cukup serius pada sektor keuangan yang semula positif namun menjadi negatif -0,95% yang sebelumnya 1,05% pada triwulan II-2020.

"Ini artinya, fase resesi sudah memukul pintu gerbang terakhir perekonomian yakni sektor keuangan, setelah menghantam 3 pondasi lainnya yakni masyarakat, dunia usaha dan pemerintah," ujar Eko.

Baca Juga: Pemulihan Ekonomi RI Kuartal III Dinilai Lebih Lambat, Kok Bisa?

Hal tersebut ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit bulanan yang turun di bawah 2%, meningkatnya Non Performing Loan (NPL) di atas 3% hingga membengkaknya likuditas namun tidak tersalurkan dengan baik.

Adapun menurut Eko, masih adanya perlambatan pemulihan ekonomi selain disebabkan masih tingginya kasus Covid-19 dengan kasus harian di atas 3.000 kasus per hari selama kuartal III, juga tidak bergeraknya investasi masyarakat, lambatnya penanganan Covid, penyerapan anggaran pemulihan ekonomi yang rendah hingga konsumsi masyarakat yang masih stagnan. 

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengatakan, meskipun angkanya berkurang, tetapi catatan ini masih cukup kecil. Hal ini jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang merupakan mitra dagang Indonesia.

Tauhid menyampaikan, China berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonominya dari kuartal II-2020 sebesar 3,2% dan kuartal III-2020 menjadi 4,9%. Amerika Serikat meskipun masih negatif tetapi mengalami perbaikan sekitar 67,8%, Singapura 47,4%, Korea Selatan 51,9%, Vietnam 550%, Hong Kong 62,2%, Uni Eropa 71,9%.

"Jadi, kalau kemarin BPS menyampaikan ada satu yang kurang bahwa perbaikan ekonomi kita jauh lebih lambat dibandingkan negara-negara mitra dagang kita, meskipun pada negara-negara yang sama-sama kondisinya masih negatif maupun negara-negara yang sudah duluan positif seperti China dan Vietnam," ujar Tauhid.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini