RI Masih Kebanjiran Barang Impor China

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 16 November 2020 17:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 16 320 2310505 ri-masih-kebanjiran-barang-impor-china-L46JeYRmRL.jpg Ekspor-Impor Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia mengalami penurunan pada Oktober 2020. Adapun angka impor Indonesia pada Oktober adalah USD10,78 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan, dari total nilai impor ini ada tiga belas negara yang mengalami penurunan. Adapun penurunannya mencapai USD616,7 juta atau setara 7,49% hingga menjadi USD7,6 miliar.

Baca Juga: Impor Pupuk hingga Kendaraan Naik Selama Oktober 2020

Kondisi tersebut disebabkan oleh turunnya nilai impor beberapa negara utama seperti Tiongkok yang turun USD709,1 juta atau setara 20,22%. Kemudian ada Taiwan dengan penurunan mencapai USD63,0 juta atau setara 19,49%.

Kemudian Jepang kini turun sekitar USD36 juta atau setara 4,69%. Ketiga negara tersebut menjadi salah satu negara dengan penurunan terbesar.

 

Meskipun mengalami penurunan, namun impor barang yang berasal dari China masih menjadi yang nomor satu. Adapun impor China pada Oktober 2020 mencapai USD2,79 miliar.

“Pangsa impor non migas Tiongkok 28,83% atau setara USD2,8 miliar,” ujarnya dalam paparan virtual, Senin (16/11/2020).

Sementara itu, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai impor Januari–Oktober 2020 dari tiga belas negara utama sebenarnya turun USD17.545,5 juta atau setara 17,85%. Penurunan ini terutama dipengaruhi nilai impor dari Tiongkok USD5,3 miliar atau setara 14,63%, Jepang USD4,4 miliar atau setara 33,79% dan Thailand USD2,54 miliar 32,10%

Dari sisi peranan terhadap total impor nonmigas Januari–Oktober 2020, kontribusi tertinggi berasal dari kelompok negara ASEAN senilai USD19,2 miliar atau setara 18,73%). Kemudian diikuti Uni Eropa senilai USD8,17 miliar atau setara 7,95%.

Sementara itu, impor dari tiga belas negara utama senilai USD80,7 miliar atau setara 78,58%. Tiongkok masih memiliki kontribusi terbesar senilai USD31,02 miliar 30,18%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini