Heboh Meteor Rp26 Miliar, KESDM: Kami Akan Cek

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 19 November 2020 08:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 19 320 2312123 heboh-meteor-rp26-miliar-kesdm-kami-akan-cek-MtrSTuqwU5.jpg Meteorit (The SUN)

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) buka suara mengenai fenomena meteor seharga Rp23 miliar. Meteor itu ditemukan oleh Hutagalung lelaki 33 tahun asal Medan.

Meteor disebut jatuh dari langit. Batu meteorit seukuran bola itu menghantam teras atap rumah tepat di ruang tamunya.

 Baca juga: Meteorit Langka yang Jatuh di Sumut Kemungkinan Lebih dari Satu 

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Eko Budi Lelono mengatakan, akan segera mengecek mengenai jatuhnya meteorit pada rumah Hutagalung.

"Kami segera cek," ujar Eko saat dihubungi MNC News Portal, Jakarta, Kamis (19/11/2020).

Sebagai informasi, Para ahli astronomi menyakini batuan antariksa yang jatuh di rumah Hutagalung telah berusia 4,5 miliar tahun dan itu sebagai salah satu batu meteorit paling dicari yang pernah ditemukan, batuan itu dapat mengandung unsur-unsur yang memberi petunjuk tentang asal usul kehidupan.

Baca juga: Meteorit Senilai Rp25 Miliar di Sumut Ternyata Paling Dicari Astronom Dunia 

Sebelumnya, pria di Desa Satahi Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, bernama Josua Hutagalung pada 5 Agustus lalu menemukan sebuah batuan luar angkasa atau meteorit. Batu tersebut diperkirakan berusia 4,5 miliar tahun dan diklasifikasikan sebagai Chondrite berkarbon CM1 / 2, varietas yang sangat langka, dan nilainya sekira USD1,85 juta atau setara Rp25 miliar.

Menanggapi peristiwa ini, Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan itu merupakan meteorit biasa. Museum Geologi Bandung biasa mengidentifikasinya.

"Itu batu meteorit biasa. Museum Geologi Bandung yang biasa mengonfirmasinya," ungkap Thomas.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa meteorit di Sumut itu merupakan objek yang biasa jatuh dari langit, sama seperti benda luar angkasa lainnya. Menurut Thomas, Museum Geologi Bandung memiliki banyak opsi dari temuan ini, tetapi tidak mengetahui prosedur yang akan dilakukan.

"Jadi Museum Geologi biasanya sekadar mengidentifikasi jenis meteorit. Mungkin pula mengoleksinya. Saya tidak tahu prosedurnya," papar Thomas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini