RI Keluar dari Resesi, Manfaatkan Pemulihan Ekonomi Asean

Rina Anggraeni, Jurnalis · Minggu 22 November 2020 13:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 22 320 2313875 ri-keluar-dari-resesi-manfaatkan-pemulihan-ekonomi-asean-wGsOPtgx3L.jpg Indonesia Alami Resesi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA- Pemerintah harus mendorong konsumsi kelas menengah dan atas untuk beberlanja. Tujuannya memperbaiki aktivitas ekonomi Indonesia dan keluar dari jurang resesi di akhir tahun ini.

Apalagi, ekonomi Asean sudah terjadi pembalikan arah dengan pertumbuhan kinerja ekspor yang positif 8,45%.

Baca Juga: Menko Perekonomian Airlangga: Tren Membaik, Sektor Swasta Didorong Optimistis Kembali Berinvestasi

"Ini kabar baiknya ada pemulihan ekspor yang lebih cepat, Kita berharap ada perbaikan kualitas surplus perdagangan pada akhir tahun tersisa," ujar Ekonom Indef Bhima Yudistira, di Jakarta, Minggu (22/11/2020).

Menurutnya, neraca dagang surplus pada Oktober sebesar USD3,61 miliar didapat dari ekspor Oktober USD 14,39 miliar dan impor Oktober USD10,78 miliar.

Baca Juga: Indonesia Resesi, Jokowi: Sangat Sulit

"Meskipun tetap perlu dicermati bahwa surplus masih disebabkan impor yang menurun cukup dalam karena aktivitas di dalam negeri belum pulih," katanya.

Kata dia, angka surplus ini sesuai dengan prediksi melihat masih rendahnya permintaan bahan baku industri di dalam negeri. Impor bahan baku yang turun 5% dibandingkan bulan September 2020 atau minus USD415,7 juta yang mencerminkan produsen masih menahan kenaikan produksi karena daya beli konsumen masih turun.

"Data ini sejalan dengan indeks penjualan riil BI yang terkontraksi 8,7% pada bulan September. Indeks keyakinan konsumen pun masih menurun dari 83,4 menjadi 79 pada Oktober," katanya.

Selain itu, selama konsumen kelas menengah dan atas tahan belanja maka industri tidak berani menambah stok pasokan bahan baku termasuk bahan baku impor. Lalu, dari sisi impor barang konsumsi negatif minus 7,58% dibanding bulan sebelumnya.

"Padahal pelaku usaha kan biasanya stok impor barang konsumsi untuk mempersiapkan Harbolnas 11.11 pada bulan berikutnya. Penjualan lewat e-commerce meskipun naik tapi belum bisa mengimbangi penurunan tajam pada ritel konvensional. Ini berarti konsumsi memang belum pulih;" bebernya.

Sementara dari kinerja ekspor non migas ada kenaikan 3,54% secara month to month. Ekspor disuport oleh perbaikan permintaan di China yang naik 8,9% dibanding bulan sebelumnya.

"Porsi ekspor ke China juga merangkak menjadi 18,6% dari total ekspor," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini