Susi Marah hingga Sedih Luhut Bilang Aturan Ekspor Benih Lobster Tak Salah

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Minggu 29 November 2020 11:40 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 29 320 2318213 susi-marah-hingga-sedih-luhut-bilang-aturan-ekspor-benih-lobster-tak-salah-kseTWWvBZL.jpg Benih Lobster (Foto: Instagram Susi)

JAKARTA - Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 ihwal Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia terus menjadi perhatian. Sebab, baru setahun mantan Menteri KKP Edhy Prabowo, menerbitkan Permen tersebut, dia ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan kasus suap ekspor benih bening lobster (BBL) atau benur.

Menteri KKP 2014-2019, Susi Pudjiastuti, merupakan salah satu tokoh publik yang konsisten mengkritisi beleid tersebut sejak awal diterbitkan. Meski, dalih Susi bukan soal monopoli atau potensi korupsi di balik regulasi itu yang dinilai beberapa pihak, Susi konsisten karena perkara keberlanjutan (sustainability) benih lobster dalam negeri.

Baca Juga: 4 Fakta Luhut Jadi Menteri KKP, Ada Monopoli Ekspor Benih Lobster

Meski pemilik PT ASI Pujiastuti Aviation dan sejumlah pihak meminta agar Permen perizinan ekspor lobster dicabut atau dibatalkan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Menteri KKP ad interim Luhut Binsar Pandjaitan, justru menegaskan bahwa Permen KP Nomor 12 Tahun 2020 tidak mengalami kecacatan atau bermasalah.

Penegasan Luhut didasari dari hasil evaluasi oleh Tim KKP dalam rapat pimpinan (rapim) pada Jumat sore kemarin. Di mana, hasil evaluasi menyimpulkan bahwa beleid itu mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat.

Baca Juga: Nelayan Buat Pengakuan Mengejutkan Pasca-Edhy Prabowo Tersangka, Ini 4 Faktanya

"Jadi, kalau dari Permen yang dibuat tidak ada yang salah. Sudah kita cek tadi. Semua itu dinikmati (hasilnya) oleh rakyat mengenai program ini. Tidak ada yang salah," kata Luhut.

Susi pun merespons pernyataan Luhut, "Luhut nyatakan Permen soal Lobster Era Edhy Prabowo tak salah," tulis Susi lewat akun Twitternya, @susipudjiastuti dikutip, Minggu (29/11/2020).

 

Di cuitan terpisah, Susi meninggalkan emoji sedih, marah, hingga heran menanggapi ucapan Luhut tersebut.

Bukan hanya itu, pemilik maskapai penerbangan Susi Air, juga secara terbuka menyampaikan keberatannya perihal ekspor benur. Melalui akun Instagram @susipudjiastuti115, dia mengunggah sebuah video pendek yang berisi soal pernyataannya ekspor benur.

"Di seluruh dunia yang jualan bibit lobster hanya Indonesia, dan bibit sidat cuma Indonesia. Juga yang memanen koral, memperjual belikan koral cuma Indonesia, apakah kita harus bangga kita satu-satunya yang jualan bibit lobster? Jualan koral, tidak, mereka tidak bisa kita genetik rekayasa keberlanjutannya," ujar Susi.

Secara ekonomis, dia menilai, benih lobster sebagai sumber daya yang dimiliki Indonesia akan memiliki nilai ekonomi tinggi jika dibudidayakan, tidak saja memberikan keuntungan bagi masyarakat, tapi juga bagi negara.

Lobster yang dibudidayakan akan memiliki harga yang jauh lebih tinggi daripada benih lobster itu sendiri. Susi menyebut, lobster berukuran 400 gram hingga 500 gram bisa dihargai Rp600.000 hingga Rp800.000. Sementara benih lobster hanya dihargai Rp30.000 - Rp Rp60.000 dari nelayan.

Dia mengutarakan, pada saat aktivitas ekspor benih lobster dilegalkan, benih lobster mengalami penurunan nilai karena dihargai pada kisaran Rp6.000 - Rp15.000. Hal ini memberikan kerugian bagi nelayan.

"Kenapa kita harus ambil bibitnya (lobster), udah begitu pakai kuota ekspor lagi, kemudian, dulu saya larang, harganya itu Rp30.000, Rp40.000, bahkan sampai Rp60.000 bibit lobsternya dari nelayan, sekarang setelah dilegalkan dan diatur dengan kuota nelayan cuma dapat Rp7.000, Rp15.000. Itu lah pola pikir dan dasar saya menjadi Menteri, saya punya amanah, saya lakukan meninggalkan legacy untuk melindungi para nelayan," ujar Susi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini