Sederet Masalah Peternakan di RI, dari Rumah Potong hingga Usia Peternak

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 11 Desember 2020 15:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 11 320 2325881 sederet-masalah-peternakan-di-ri-dari-rumah-potong-hingga-usia-peternak-C6UzRmJ02b.jpg Peternakan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sektor peternakan Indonesia masih dihadapkan oleh sejumlah permasalahan. Permasalahan tersebut terjadi dari mulai di hulu hingga ke hilir.

CEO Ternaknesia Dalu Nuzlul Kirom mengatakan, salah satu contoh masalah yang terjadi adalah dari sisi aspek konsumen. Para konsumen masih kesulitan untuk mendapatkan produk ternak dengan kualitas yang bagus.

“Di aspek konsumen pun untuk mendapatkan produk berkualitas itu terbatas,” ujarnya dalam acara Market Review IDX Channel, Jumat (11/12/2020).

Baca Juga: Produktivitas Peternak Rendah Jadi Alasan Impor Masih Tinggi 

Dalu mencontohkan misalnya pada aspek daging di mana masih rendahnya rumah potong hewan yang melayani daging untuk disebarkan kepada konsumen. Berdasarkan datanya, hanya sekitar 9,6% daging yang yang sesuai dengan standar pemerintah.

“Misalnya saja aspek daging, rumah potong hewan di Indonesia itu yang melayani daging yang disebarkan dan dikonsumsi masyarakat hanya 9,6% yang berstandar halal sesuai dengan standar pemerintah. Selebihnya dipotong di rumah potong tradisional,” jelasnya.

Selain itu, masalah lainnya adalah perilaku peternak yang saat ini rata-tata berusia 40-60 tahun. Hal ini menjadi salah satu yang membuat produktifitas dari para peternak di Indonesia sangat rendag.

“Permasalahan peternak dari aspek dari pelaku peternaknya yang rata-rata usia tua 40-60 tahun sehingga produktifitasnya rendah,” ucapnya.

Atas dasar permasalahan itu lanjut Dalu, dirinya membuat sebuah platfom untuk mengakomodir permasalahan baik dari sisi peternak maupun konsumen. Dengan platfom digital ini maka konsumen mendapatkan kejelasan dan peternak pun bisa menjual hasilnya ke marketplace

“Kemudian di tengahnya di suplai chain-nya manufakturnya kita inject dengan teknologi digital agar bisa terecord asal hewan disalurkan di mana. Dan di konsumennya mendapat kejelasan kalau ini dipotong ditempat jelas dan berstandarisasi. Kemudian mereka bisa mendaprkan dengan mudah dengan beli di platfom kami,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini