JAKARTA - Perjalanan ekonomi Indonesia 2020 dimulai dengan langkah penuh optimisme. Bahkan sejak akhir tahun 2019 pemerintah, Bank Indonesia hingga kalangan pengusaha yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 akan mendekati target yakni 5,3%.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut ada beberapa cara kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 5,3% pada 2020. Salah satunya pada sektor pariwisata.
Baca Juga: Pemulihan Ekonomi, Menko Luhut Fokuskan Lokasi Wisata
Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Andin Hadiyanto mengatakan bahwa stimulus fiskal agar pertumbuhan ekonomi bisa sesuai target 5,3% pada 2020 dengan masih adanya tax holiday, tax allowance.
"Kemudian ditambah pada sektor pariwisata. Di antaranya empat destinasi wisata prioritas. Seperti Labuan Bajo, Candi Borobudur, Danau Toba dan Mandalika," ujar dia, 8 Oktober 2019.

Ya, sektor pariwisata memang digadang-gadang sebagai penopang ekonomi Indonesia tahun ini. Hingga akhir tahun lalu, pemerintah masih optimistis proyek pengembangan sektor pariwisata akan memberikan multiplier effect pada ekonomi 2020.
Di kalangan pengusaha, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 berkisar 4,85% hingga 5,10%.
"Proyeksi ini mempertimbangan sejumlah faktor, yaitu faktor eksternal (global) dan internal serta kelesuan perekonomian global dan perang dagang Amerika Serikat dengan China menjadikan aliran portofolio dana investor ke Indonesia menjadi terhambat sehingga hal ini menciptakan tekanan terhadap berbagai mata uang global, termasuk Rupiah," ujar Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani di Jakarta, 10 Desember 2019.
Mimpi Buruk Itu Bernama Covid-19
Sayangnya rasa optimisme pemerintah dan stakeholder dipatahkan oleh munculnya Coronavirus Disease atau virus corona (covid-19). Di awal kemunculan covid-19 di Wuhan-China, pemerintah sudah menyiapkan sejumlah antisipasi agar ekonomi tidak terkoreksi terlalu dalam.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menggelar rapat terbatas (Ratas) dampak virus corona pada ekonomi Indonesia, di Istana Negara pada 25 Februari 2020. Rapat dihadiri para menteri Kabinet Indonesia Maju.
Kepala Negara mengatakan, ratas kali ini mengantisipasi dampak virus corona, di mana wabah ini sudah mengancam perekonomian beberapa negara di dunia termasuk Indonesia.
"Dari sisi dampak dampak ekonomi Indonesia. Dalam Ratas sebelumnya kita telah memutuskan langkah kebijakan menghadapi dampak virus corona ini terhadap ekonomi kita," ujarnya sesaat sebelum membuka Ratas, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 25 Februari 2020.
Baca Juga: Ekonomi Domestik Pulih Bertahap Berkat Vaksin Covid-19
Sebab, negara andalan ekspor Indonesia yakni China tengah mengalami guncangan ekonomi. Bahkan ekonomi China berkontraksi atau mengalami pertumbuhan negatif menjadi -6,8% di kuartal pertama 2020, dibanding periode yang sama di tahun 2019.
Belum selesai masalah penurunan ekspor ke China, ekonomi Indonesia kembali diguncang usai Presiden mengumumkan ada warga negara Indonesia yang terkena virus covid-19.
Baca Juga: Bank Dunia Sebut Ekonomi Indonesia Mulai Pulih tapi Belum Merata
Pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengatakan, ada dua warga Indonesia positif terjangkit virus corona, setelah berinteraksi dengan WN Jepang yang sempat masuk ke wilayah Indonesia, beberapa waktu lalu.
Berselang beberapa hari, World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia) secara resmi mendeklarasikan virus corona (COVID-19) sebagai pandemi pada tanggal 9 Maret 2020. Artinya, virus corona telah menyebar secara luas di dunia.
Kondisi ini semakin membuat ekonomi dunia kacau balau. Beberapa negara di dunia menutup diri alias menerapkan kebijakan lockdown. Aktivitas bandara dan pelabuhan lumpuh hingga akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi seluruh negara.
Selang 10 hari pengumuman status pandemi, Bank Indonesia kemudian menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari dari 5,0%-5,4% menjadi 4,2%-4,6%. Hal ini karena ekonomi dunia juga mengalami pelambatan dan tidak adanya ketidakpastian di tengah meluasnya virus corona atau Covid-19.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui, bahwa Covid-19, tidak bisa dipungkiri memberikan tantangan bagi upaya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Apalagi dengan melambatnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia menurunkan prospek pertumbuhan ekspor barang Indonesia, meskipun pada Februari 2020 meningkat didorong ekspor batu bara, CPO, dan beberapa produk manufaktur.
"Ekspor jasa terutama sektor pariwisata diprakirakan juga menurun akibat terhambatnya proses mobilitas antar negara sejalan dengan upaya memitigasi risiko perluasan Covid-19," ujarnya, dalam telekonferensi BI, di YouTube, 19 Maret 2020.
Baca Juga: Saran Bank Dunia agar Ekonomi RI Cepat Pulih, Perbesar Pajak Crazy Rich
Hitung Ulang Semua Keuangan Negara
Soal koreksi pertumbuhan ekonomi, Menteri Keuangan Sri Mulyani akhirnya menghitung ulang proyeksi ekonomi indonesia. Sri Mulyani memiliki skenario bahwa ekonomi bisa tumbuh 0% pada 2020.
Skenario pertumbuhan ekonomi bisa lebih berat jika masalah virus corona lebih dari tiga hingga enam bulan dan kemudian terjadi lockdown sehingga perdagangan internasional bisa turun 30% hingga penerbangan turun 75%-100%. "Maka skenario bisa jadi lebih dalam. Pertumbuhan ekonominya bisa mencapai 2,5% bahkan sampai ke 0%," tegasnya pada 20 Maret 2020.
Hitung-hitungan Sri Mulyani ada benarnya juga, hal ini terbukti pada capaian ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020. Meskipun masih positif, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 hanya tumbuh 2,97% saja. Angka ini jauh meleset dari prediksi pemerintah maupun para pengamat ekonomi Indonesia yang diperkirakan bisa tumbuh di angka 4%.
Dampak virus corona pada ekonomi kuartal I mulai terasa namun belum terlalu besar. Hingga pada akhirnya ekonomi Indonesia pada kuartal II tumbuh negatif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2020 mencapai minus 5,32%. Minusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah diprediksi banyak pihak imbas dampak pandemi virus corona atau Covid-19.
Sejak pengumuman ekonomi kuartal II, ancaman resesi mulai menghantui Indonesia. Resesi merupakan siklus dari perekonomian kita. Di mana ukuran ekonomi dihitung berdasarkan seberapa besar output atau produksi yang dihasilkan dalam satu tahun. Resesi itu terjadi ketika ekonomi tumbuh negatif dan berlangsung dua triwulan berturut-turut.
Indonesia Tidak Sendiri
Demi menghindari stempel resesi, pemerintah menyiapkam sejumlah strategi agar ekonomi kuartal berikutnya tidak jatuh terlalu dalam. Mulai dari deretan bansos, BLT, insentif industri hingga pajak dikeluarkan agar kejatuhan ekonomi tak makin dalam.
Disayangkan upaya pemerintah tak cukup menahan beban ekonomi. Pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2020 masih minus. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 3,94%. Lalu akhirnya Indonesia mendapat stempel resesi, setelah mengalami pertumbuhan ekonomi negatif dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal III-2020, ekonomi terkontraksi 3,49% dan kuartal II minus 5,32%.
Perlu diketahui, Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami resesi. Setidaknya ada puluhan negara yang ekonominya tumbuh minus dan harus menghadapi resesi. Mengutip data dari Express, (27/8/2020), diungkap daftar negara yang saat ini mengalami resesi. Di antaranya Austria, Belgia, Kanada, Denmark, Estonia, Finlandia, Hungaria, Irlandia.
Kemudian Latvia, Lithuania, Mexico, Belanda, Norwegia, Romania dan Rusia. Dari data tersebut total ada 15 negara baru yang masuk dalam daftar resesi ekonomi akibat Covid-19.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.