Membedah Kabar Gojek dan Tokopedia Merger

Hafid Fuad, Jurnalis · Selasa 05 Januari 2021 20:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 05 320 2339464 membedah-kabar-gojek-dan-tokopedia-merger-gPPkRKolFh.jpg Gojek (Foto: Okezone)

JAKARTA - Gojek dan Tokopedia telah mempertimbangkan potensi merger sejak 2018. Kemudian rencana ini dipercepat karena rencana merger lain antara Gojek dan Grab sedang macet.

Pengamat ekonomi dari INDEF Nailul Huda mengatakan untuk merger Gojek dan Tokopedia ada beberapa motif yang tidak lepas dari karakteristik utama perusahaan digital.

Baca Juga:  Gojek dan Tokopedia Dikabarkan Merger, KPPU Bilang Begini

Pertama, perusahaan digital mengedepankan efisiensi dalam operasional kegiatan bisnisnya. Kedua, perusahaan digital memperoleh pendanaan dengan cara yang relatif sama, misalkan pendanaan berseri (untuk di film startup dilakukan saat demoday). Ketiga, perusahaan digital cenderung memperbesar nilai valuasi perusahaan.

"Dengan valuasi yang tinggi dan sistem operasional yang lebih efisien, pendanaan akan lebih mudah mengalir ke perusahaan digital tersebut. Gojek dan Tokopedia akan bisa menghasilkan manfaat dari ketiga karakteristik tersebut," ujar Huda, Selasa (5/1/2020).

Selain itu, Gojek juga berencana mendirikan Bank Digital, maka bisa membuat pangsa pasar Bank Digital Gojek semakin besar. Bagi Tokopedia, rencana untuk IPO akan lebih mulus dan besar kemungkinan berhasil.

Disamping itu, keberadaan investor yang sama di Gojek dam Tokopedia akan memperkuat merger ini. Adanya merger akan lebih menguatkan posisi investor di kedua perusahaan yang merger.

Kalau dilihat dari persaingan usaha, merger ini akan mengarahkan persaingan kepada duopoli di ecommerce dan menguatkan duopoli di ride-hailing atau ojek online.

Dalam jangka pendek tentu ini akan menguntungkan konsumen karena perang promo dan diskon akan terjadi. "Namun dalam jangka panjang akan merugikan karena persaingan sudah mengerucut pada dua perusahaan Shopee dan Tokopedia di e-commerce, dan Gojek dan Grab di ride hailing," jelasnya.

Pengamat teknologi digital Heru Sutadi juga menilai merger antara Gojek dan Tokopedia ini akan menjadi Super Apps. Namun dalam ekonomi tradisional ini juga disebut konglomerasi.

"Tentu harus jadi perhatian jika ada penguasaan bisnis dari hulu hingga ke hilir yang berdampak misal pada harga ke konsumen dan persaingan usaha tidak sehat," ujar Heru mengingatkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini