Wall Street Turun Terbebani Data Vaksin Johnson & Johnson

Alya Ramadhanti, Jurnalis · Sabtu 30 Januari 2021 06:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 30 278 2353383 wall-street-turun-terbebani-data-vaksin-johnson-johnson-XVJ9cBZJVV.jpg Wall Street (Foto: Shutterstock)

NEW YORK - Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street melemah pada perdagangan Jumat, dengan penurunan mingguan terbesar sejak Oktober 2020. Hal ini karena investor memperhatikan hasil uji coba vaksin Covid-19 dari Johnson & Johnson. Selain itu, Wall Street juga terkena sentimen dari perdagangan GameStop Corp dan Koss Corp

Saham Johnson & Johnson yang melemah menjadi salah satu beban terbesar pada indeks Dow Jones dan S&P 500, setelah pembuat obat tersebut mengatakan bahwa vaksin yang dibuatnya 72% efektif dalam mencegah Covid-19 di Amerika Serikat.

Baca Juga: Trending di Dunia Saham, Apa Itu GameStop?

Hasil tersebut pun di bawah standar dibandingkan dua vaksin resmi dari Pfizer Inc dan Moderna Inc sekitar 95% efektif dalam mencegah gejala penyakit. Tercatat saham Moderna naik, sementara Saham Pfizer sedikit berubah.

Di sisi lain, pasar saham juga mengkhawatiran tekanan singkat pada awal pekan, setelah investor ritel kembali memperdagangkan saham seperti GameStop Corp dan Koss Corp. Perdagangan pun melonjak lebih tinggi setelah pialang termasuk Robinhood melonggarkan beberapa pembatasan yang mereka tempatkan pada perdagangan.

Baca Juga: Wall Street Rebound Ditopang Emiten Teknologi 'Kelas Berat'

“Gambaran keseluruhannya adalah bahwa jika ada berita buruk yang menunjukkan atau mengindikasikan bahwa mungkin ada periode hibernasi lebih lama bagi kita untuk berada di dalam ruangan dan tidak mengonsumsi atau berbelanja yang cenderung membuat pasar mundur dan banyak orang memperhatikan berita itu,” kata Kepala Investasi Defiance ETF Sylvia Jablonski, dilansir dari Reuters, Sabtu (30/1/2021).

“Lalu apa yang terjadi dengan (Gamestop) dan semua itu, orang sedikit takut untuk berdagang,” sambungnya.

Menurut data Refinitiv, lonjakan volatilitas menyebabkan peningkatan volume yang sangat besar, dengan total lebih dari 20 miliar saham selama dua sesi perdagangan terakhir di seluruh bursa AS atau menjadi perdagangan paling aktif yang tercatat sejak 2014.

Dow Jones Industrial Average turun 629,89 poin atau 2,06% menjadi 29.973,47. S&P 500 kehilangan 74,61 poin atau 1,97% menjadi 3.712,77 dan Nasdaq Composite turun 273,58 poin atau 2,05% menjadi 13.063,58.

Ketiga indeks utama tersebut pun mengalami penurunan mingguan terbesar sejak akhir Oktober 2020.

Meski demikian, pelaku pasar berspekulasi bahwa volatilitas yang disebabkan oleh tekanan jangka pendek menyebabkan favorit saham investor, yakni Apple Inc berada di bawah tekanan karena dana lindung nilai menjual untuk menutupi kerugian miliaran dolar.

Saham Apple menurun, begitu juga dengan saham Microsoft yang ikut melemah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini