JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat penurunan laba pada 2020. Hal ini disebabkan oleh biaya pencadangan yang lebih tinggi.
Presiden Direktur Bank BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, meski menghadapi sejumlah tantangan, BCA dan entitas anak mampu mencatatkan pertumbuhan laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) hingga 11,2% (YoY) menjadi Rp45,4 triliun. Kinerja laba didukung oleh peningkatan likuiditas, biaya dana yang lebih rendah, dan perlambatan belanja operasional.
Baca juga: Diminta Ganti Rugi Rp10 Miliar, BCA: Proses Lelang Sesuai Aturan
"Sementara itu, laba bersih turun 5,0% YoY menjadi Rp27,1 triliun, disebabkan biaya pencadangan yang lebih tinggi untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas aset," ujarnya dalam webinar, Jakarta, Senin (8/2/2021).