5 Fakta PPKM Mikro, Pengusaha Harap Mal Ramai meski Belum Untung

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 14 Februari 2021 04:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 13 320 2361358 5-fakta-ppkm-mikro-pengusaha-harap-mal-ramai-meski-belum-untung-zhgdOE4kmc.jpg Jam Operasional Mal sampai Pukul 21.00. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemerintah melalui Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) memberlakukan Pengaturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara mikro. Kebijakan baru ini akan diberlakukan sejak 9-22 Februari 2021.

Dalam penerapan PPKM secara mikro, operasional mal dibuka lebih lama dari PPKM sebelumnya, yakni tutup pukul 21.00 WIB. Okezone telah merangkum beberapa fakta menarik terkait harapan pengusaha mal selama kebijakan itu berlangsung, Minggu (14/2/2021).

1. Pengusaha Ngarep Pengunjung Naik 40% Selama PPKM Mikro

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menilai perpanjangan jam operasional mal saat PPKM mikro hingga pukul 21.00 akan mengembalikan tingkat kunjungan sebesar 40%.

Baca Juga: Imlek 2021, Pengusaha Mal: Belum Untung yang Penting Ada Pemasukan

"Perpanjangan jam operasional tersebut diharapkan dapat mengembalikan tingkat kunjungan kembali ke 30%-40% yang selama PPKM telah merosot menjadi 20%-30%," ujarnya kepada Okezone.

2. Ini Faktor Pendorong Kenaikan Pengunjung Mal

Menurut dia, tingkat kunjungan mal itu akan naik hingga 40% sampai pertengahan 2021 mendatang. Hal ini karena program vaksinasi baru akan menghasilkan dampak positif sekira dua atau tiga bulan mendatang.

Baca Juga: Mal Buka hingga Pukul 21.00, Pengusaha Dapat Angin Segar

"Kemudian diperkirakan tingkat kunjungan 30% - 40% ini akan datar saja sampai dengan pertengahan tahun 2021 ini dikarenakan tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan baru akan mulai bergerak pulih pada saat vaksinasi untuk masyarakat umum telah dilaksanakan," katanya.

3. Pengusaha Mal Minta Pemerintah Juga Aktif Lakukan Pengawasan

Alphonzus menilai kebijakan perpanjangan pembatasan itu dinilai kurang efektif karena pemerintah masih lemah dalam hal penegakan.

"Permasalahan yang terjadi selama ini sebenarnya adalah perihal penegakan atas penerapan dan pemberlakuan Protokol Kesehatan yang sangat lemah. Jadi sebenarnya yang diperlukan adalah penegakan-penegakan bukan tambahan pembatasan-pembatasan," kata Alphonz kepada Okezone.

4. Pembatasan Tak Efektif Bila Tak Tegakkan Prokes yang Ketat

Menurut dia, pembatasan itu menjadi tidak efektif jika pemerintah tak melakukan penegakan protokol kesehatan secara ketat.

"Pembatasan akan menjadi tidak efektif jika tidak disertai dengan penegakan atas protokol kesehatan sebagaimana yang terjadi selama ini dimana jumlah kasus positif meningkat terus bahkan beberapa kali memecahkan rekor jumlah tertinggi terus menerus," ujarnya.

5. Harapan Pengusaha Mal

Dia berharap dengan diberlakukannya PPKM berbasis mikro sekarang ini maka dapat memperbaiki kesalahan yang terjadi beberapa waktu lalu.

"Dengan diberlakukannya PPKM berbasis mikro maka diharapkan kelemahan selama ini yaitu perihal penegakan dapat segera teratasi. Diharapkan dengan PPKM berbasis mikro maka pemerintah dapat memastikan bahwa seluruh masyarakat menerapkan protokol kesehatan secara ketat, disiplin dan konsisten," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini