Penduduk Lebih Banyak tapi Beras Belum Terpenuhi, Ketahanan Pangan RI Rentan

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 22 Februari 2021 13:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 22 320 2366174 penduduk-lebih-banyak-tapi-beras-belum-terpenuhi-ketahanan-pangan-ri-rentan-ku0jGOWHrX.jpg Petani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketahanan pangan dalam negeri berpotensi akan terganggu. Hal tersebut menyusul akan berkurangnya lahan persawahan karena alih fungsi lahan untuk beberapa kebutuhan non sawah.

Direktur Pengendalian Hak Tanah, Alih Fungsi Lahan, Kepulauan dan Wilayah Tertentu Kementerian ATR/BPN Asnawati mengatakan, ancaman tersebut karena jumlah penduduk yang mengalami kenaikan setiap tahunya. Di mana pada periode 2015 hingga 2020 saja diperkirakan ada kenaikan 20 juta jiwa.

Baca Juga: Status Ketahanan Pangan Indonesia Semakin Baik

“Artinya kalau kita bagi per tahun kenaikan jumlah penduduk 4,5 juta jiwa per tahun. Jadi kami simpulkan di sini mengalami tren terus bertambah penduduk dari tahun ke tahun,” ujarnya dalam acara Webinar PPTR Expo, Senin (22/2/2021).

Sementara itu, di saat bersamaan jumlah Gabah Kering Giling (GKG) dari 2018 hingga 2020 yang masih berada di bawah kebutuhan nasional. Berdasarkan data yang dimilikinya pada 2018 jumlah produksi GKG mencapai sekitar 59,2 juta ton.

Baca Juga: Status Ketahanan Pangan Indonesia Semakin Baik

Sedangkan pada tahun 2019, jumlah produksi GKG mencapai 54,6 juta ton. Kemudian pada 2020, jumlah produksi GKG mencapai angka sekitar 55,1 juta ton.

“Dari pertambahan jumlah penduduk yang meningkat kita tampilkan GKG (Gabah Kering Giling) dari 2018-2020 masih di bawah kebutuhan padi nasional. Artinya secara nasional kebutuhan padi belum bisa terpenuhi,” jelasnya.

Produksi ini juga bisa terus berkurang menyusul adanya potensi kehilangan lahan sawah karena alih fungsi lahan. Sebab, setiap tahun ada sekitar 150.000 ha lahan sawah yang mengalami alih fungsi menjadi non sawah setiap tahunnya.

Sedangkan jumlah cetak sawah baru hanya sekitar 60.000 ha saja setiap tahunya. Artinya, ada potensi kehilangan lahan sawah sekitar 90.000 ha setiap tahunnya.

“Artinya di sini cetak baru jika disandingkan dengan alih fungsi sawah ke non sawah ini masih jauh dari kata seimbang. Akan ada potensi kehilangan lahan sawah sebesar 90.000 ha per tahun,” jelasnya.

Menurut Asnawati, kejadian ini perlu penanganan segera. Sebab,kondisi akan akan berdampak kepada kerentanan pangan yang ada di Indonesia.

“Kondisi ini tentu akan menimbulkan kerentanan terhadap ketahanan pangan nasional. Dengan inilah perlunya pengendalian alih fungsi lahan sawah yang merupakan kegiatan yang tentu harus mendapat perhatian serius dari pemerintah,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini