Hati-Hati Dipenjara! Lakukan Hal Ini jika Terima Uang Salah Transfer

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 01 Maret 2021 16:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 622 2370286 hati-hati-dipenjara-lakukan-hal-ini-jika-terima-uang-salah-transfer-FdT1Vw8zK8.jpeg Salah Transfer (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Fenomena salah transfer rekening nasabah yang bukan menjadi tujuan memang kerap terjadi di beberapa perbankan. Namun, perlu diingat apabila Anda tiba-tiba menerima dana di dalam rekening pribadi, padahal tak melakukan transaksi apapun, jangan terlena untuk menikmatinya.

Pasalnya, bila ada seorang nasabah yang secara sengaja tak melaporkan kepada pihak perbankan perihal masalah tersebut, maka yang bersangkutan akan merasakan dinginnya lantai jeruji besi.

Hal ini menimpa warga Surabaya bernama Ardi Pratama yang kini harus berurusan dengan meja hijau, karena tak menggunakan uang salah transfer untuk kepentingan pribadi.

Baca Juga: Gunakan Uang Salah Transfer Bisa Dipidana, Ini Tanggapan YLKI 

Awal mulanya, Ardi menerima uang masuk ke rekeningnya pada 17 Maret 2020. Saat itu, pihak BCA melakukan kliring yang justru nyasar ke rekening BCA milik Ardi cabang Citraland. Pengiriman uang dilakukan oleh Back Office BCA berinisial NK. Pegawai BCA ini salah mengimput nomor rekening saat melakukan setoran sebesar Rp51 juta.

Dikutip berbagai sumber, sejatinya kewajiban untuk mengembalikan dana dari kejadian salah transfer oleh perbankan telah diatur oleh undang-undang.

Nasabah yang menerima dana salah transfer tidak dibenarkan menguasai, apalagi menggunakan dana tersebut untuk kepentingan pribadi.

Mengacu pada Pasal 85 UU 3/2011, unsur yang mendukung perbankan dapat melakukan gugatan kepada nasabah adalah intensi dan tindakan nasabah yang dengan sengaja ingin menguasai dana dari kejadian salah transfer tersebut.

Dalam pasal tersebut ditegaskan bahwa setiap orang yang dengan sengaja menguasai dan mengakui sebagai miliknya dana hasil transfer yang diketahui atau patut diketahui bukan haknya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Selain itu, berdasarkan ketentuan Pasal 1360 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang menyebutkan: “Barangsiapa secara sadar atau tidak, menerima suatu yang tak harus dibayar kepadanya, wajib mengembalikannya kepada orang yang memberikannya”.

Maka secara perdata, orang yang bersangkutan wajib mengembalikan dana hasil salah transfer tersebut. Hal itu dengan catatan, pihak bank harus bisa membuktikan dana tersebut tidak diperuntukkan bagi orang yang bersangkutan.

Jadi, secara hukum nasabah wajib mengembalikan uang yang bukan miliknya tersebut kepada bank yang melakukan salah transfer. Namun, sebelum mengembalikan uang tersebut, nasabah harus melakukan cross-check kepada bank yang bersangkutan bahwa benar bank tersebut telah melakukan salah transfer dan juga mengenai jumlah uangnya.

Pemilik rekening berhak meminta bank membuat surat atau pemberitahuan resmi mengenai kesalahan transfer tersebut. Selain kewajiban dari bank, hal ini untuk menghindarkan terjadinya penipuan dari oknum-oknum tertentu dengan mengatasnamakan bank.

Di sisi lain, pihak bank wajib membuktikan adanya kekeliruan transfer tersebut kepada nasabah, di antaranya dengan menunjukkan adanya perintah transfer dana dari Pengirim Asal dan Penerima yang seharusnya menerima dana tersebut, sesuai Pasal 78 Undang-Undang No.3 Tahun 2011 :

“Dalam hal terjadi keterlambatan atau kesalahan Transfer Dana yang menimbulkan kerugian pada Pengirim Asal atau Penerima, Penyelenggara dan/atau pihak lain yang mengendalikan Sistem Transfer Dana dibebani kewajiban untuk membuktikan ada atau tidaknya keterlambatan atau kesalahan Transfer Dana tersebut," tulis pasal tersebut.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini