7 Fakta Neraca Perdagangan RI Surplus USD2 Miliar, Ekspor Menggeliat

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Sabtu 20 Maret 2021 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 19 320 2380637 7-fakta-neraca-perdagangan-ri-surplus-usd2-miliar-ekspor-menggeliat-EZvoopozMx.jpg Ekspor impor (Shutterstock)

JAKARTA Neraca perdagangan Indonesia di Bulan Februari 2021 dikabarkan surplus sebesar USD2,01 miliar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rincian nilai ekspor sebesar USD15,27 miliar dan nilai impor USD13,26 miliar.

Terkait surplusnya neraca perdagangan Indonesia bulan Februari 2021 tersebut, Okezone telah merangkum beberapa faktanya, Sabtu (20/3/2021).

 Baca juga: Ekspor-Impor Turun, Sri Mulyani: Kita Perlu Membenahi Diri

1. Lebih besar dari bulan Januari 2021

Surplus neraca perdagangan di bulan Februari 2021 lebih baik dari bulan sebelumnya yang sebesar USD1,96 miliar. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan catatan neraca dagang Indonesia pada dua bulan pertama 2021 cukup menggembirakan melihat nilai ekspor dan impornya yang masing-masing mencatatkan kenaikan.

"Impor pada bulan lalu tercatat sebesar USD13,34 miliar atau turun 7,59% mom dan secara tahunan turun 6,49% yoy," tandasnya.

 Baca juga: Neraca Perdagangan Diproyeksi Defisit Lagi pada Pertengahan Tahun

2. Surplus karena penurunan impor dan aktivitas manufaktur

Ekonom Josua Pardede mengatakan pelebaran neraca dagang pada Februari 2021 diperkirakan cenderung akibat penurunan pertumbuhan impor secara bulanan. Penurunan impor secara bulanan disebabkan oleh menurunnya aktivitas manufaktur Indonesia, terindikasi dari penurunan PMI Indonesia menjadi sebesar 50,9 dari sebelumnya sebesar 52,2.

"Meskipun demikian, karena pengaruh rendahnya kinerja impor pada bulan Februari 20 lalu, laju pertumbuhan tahunan dari impor diperkirakan tercatat positif sebesar 9,97% (year on year/yoy)," kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin (15/3/2021).

3. Hal ini juga dipengaruhi beberapa sektor ekspor yang tumbuh

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, neraca perdagangan surplus sangat menggembirakan dikarenakan volume sektor ekspor yang tumbuh.

"Kenaikannya ini menggembirakan karena sektor perdagangan kita ini terjadi pada perkebunan dan pertanian hingga dua digit," ujar Suhariyanto dalam video virtual, Senin (15/3/2021).

Kata dia, ekspor bulan Februari didominasi oleh industri pengolahan yang tumbuh 1,38% (mtm) didorong besi baja, kendaraan motor, logam dasar mulia dan kimia dasar organik dari hasil pertanian.

4. Neraca perdagangan surplus dengan beberapa negara, namun ada juga yang defisit

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, neraca perdagangan Indonesia terpantau surplus dengan beberapa negara, seperti Amerika Serikat (AS) yang surplus USD1,09 miliar, India surplus USD563,2 juta dan Filipina surplus USD504,3 juta.

Namun, neraca perdagangan dengan beberapa negara terpantau defisit, seperti neraca dagang dengan China yang defisit USD1,09 miliar, Australia defisit USD243,6 juta, dan dengan Korea Selatan defisit USD192,3 juta.

5. Neraca perdagangan Indonesia telah berturut-turut mengalami surplus sejak Mei 2020

Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono mengatakan, neraca perdagangan Indonesia telah berturut-turut mengalami surplus sejak Mei 2020. Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan tersebut berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

6. Surplus di bulan Februari 2021 dipengaruhi sektor nonmigas

Menurut Erwin Haryono, surplus neraca perdagangan Februari 2021 dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang berlanjut. Pada Februari 2021, surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar USD2,44 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Januari 2021 sebesar USD2,63 miliar.

Perkembangan itu dipengaruhi oleh ekspor nonmigas yang tercatat USD14,40 miliar. Relatif stabil dibandingkan dengan ekspor nonmigas bulan sebelumnya sebesar USD14,41 miliar. Sementara itu, impor nonmigas mengalami peningkatan terutama pada kelompok barang modal, sejalan dengan aktivitas ekonomi domestik yang melanjutkan perbaikan.

7. Surplus diperkirakan paling lama bertahan hingga pertengahan tahun ini

Ekonom Universitas Indonesia Telisa Falianty memprediksi surplus yang dialami oleh Indonesia bisa dirasakan paling lama hingga semester I.

"Neraca dagang kita surplusnya paling bisa ditahan sampai semester I. Surplus itu akan semakin tipis bahkan bisa defisit," katanya dalam Market Review IDX Channel, Selasa (16/3/2021)

Hal tersebut disebabkan kinerja ekonomi yang semakin membaik. Jika ekonomi Indonesia pulih artinya konsumsi sudah meningkat. Ketika konsumsi meningkat, maka industri akan memproduksi barang, sehingga kebutuhan akan impor pasti tinggi. Telisa memperkirakan pemulihan ekonomi akan terjadi pada April, Mei dan Juni.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini